Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Oktober 2010

No tittle















tanpa judul
oleh Ummu Tsabita Azmi Zahira pada 17 Mei 2010 jam 19:52


Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana
Amat sederhana… tak seistimewa cintaku pada Alloh dan RasulNya…
Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana…
Sesederhana angin yang berdecak didedaunan lemah… hingga membawa ketentraman dalam keheningan
Sesederhana mekarnya edelweis… meski hanya menebar bau tanah dan warna tak secerah dahlia… namun mampu bertahan amat lama…

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang amat sederhana…
Sesederhana kayu yang tak mau berkata-kata ketika api membakarnya.. hingga muncul cahaya penentram dalam gulita

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Sesederhana tetesan hujan yang jatuh membasahi tanah… tanpa menuntut ruang istimewa untuk meluncurkan tetesannya… rela membasahi tiap-tiap permukaan… dari padang rumput hijau penuh bunga… hingga pinggiran jalanan kota penuh limbah

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana…
siapapun dia...
seorang yang telah Alloh pilihkan untukku
seorang yang kini masi menjadi misteri terindah dalam kuasa Nya

Sabtu, 28 Agustus 2010

JALAN YANG PANJANG




















Betapa jauh jarak


Langkah kaki tak akan terhitung dengan pasti

Asa itu memburam... namun tak akan pernah tenggelam







Alloh... aku sepi... lelah dan pasrah

Namun berharap bahwa esok akan indah





Alloh... izinkan aku sekali lagi

Sekali lagi mengharap bahwa masih ada jalan menuju senyuman





Alloh.. aku terjaga

Ketika rumah-rumah telah mematikan lentera

aku terjaga, ketika jalanan kota tak lagi bersuara

biarkan aku bersimpuh.. memulihkan segenap luka dengan airmata ketakutanku akan dosa yang kupunya

Aku pun menangis.... dengan airmata yang membanjiri hati yang teriris





Alloh... jagalah ia ketika aku tak mampu berada di dekatnya

Aku tak bisa menolong

Hanya sebuah doa yang kuyakini Engkau mendengarnya





Alloh... Kami hanya ingin menjadi orang yang setia padaMu

Dengan tak membuatMu cemburu





Aku harus meninggalkan ini... ketika aku baru menemukannya

Karena aku lelah... aku kesepian dan aku merindukanMu lagi



Alloh...jangan biarkan aku menyerah dengan cara yang egois

Dan jangan biarkan yakinku terkikis



Harapan itu masih ada

Selalu ada...

harapan untuk menjadi mutiaramu yang tetap terjaga...

Senin, 21 Juni 2010

Dalam Pagi Yang Menakjubkan


















Bila nanti
Masa &qadar tlah brpendar

Tiada lagi risau yg mengacau
Tiada lagi rindu yg mencandu
Tiada lagi takut yg menyulut

Semua akan kusambut, dengan sekuntum mawar putih yang masih mengerucut

Tak perlu khawatir dengan duri, karena ia tlah trbuang pergi

Saga senja kan kita tatap bersama
Kelam malam kan kita jadikan sarana menyelam dalam kalam-kalam semesta alam

Biarlah waktu menjaga yang kelak jadi milikmu.. Seolah duri yang menghiasi mawar putih

Tenanglah dalam keharibaan Tuhan

Karena semua akan tertemukan dalam pagi yang menakjubkan

Sabtu, 02 Januari 2010

Sebentuk Hati

Dari balik jendela jiwa, seulas senyum manis itu sedang menanti asanya yang tak kunjung tiba
Menepi diperbatasan pupus, merangkai rasa teramat mulia namun tak dikultus
Tiada yang tahu apa dibalik senyum itu
Tiada yang mengerti bahwa disana ada sebentuk munajah indah dalam lelah
Menanti kepastian yang tak pasti

Jangan…
jangan sekali-kali kau membawanya terbang menjelajah nirwana maya
pabila yang kau ingin hanyalah patahkan sayap-sayapnya
karena… bagaimana kelak ia kan bisa menjangkau cinta yang lainnya, jika sayapnya terpatah dan keindahan nirwana nyata tak lagi bisa meyakinkan ragunya

Jangan…
Jangan sekali-kali kau beri ia sekuntum mawar tanpa pembatas
Karena harum dan cantik mawar kan membuatnya sejenak tertawa, namun durinya kan meninggalkan torehan luka yang kan lama menganga

Sebentuk hati itu bagaikan salju dingin nan rapuh
Terlihat angkuh dalam beku, namun kala kau meremasnya ia akan hambur dan hancur
Sebentuk hati itu bagaikan bunga mekar
Jangan kau untai pujian ataupun membuat kelakar-kelakar yang buat wajahnya berbinar
Jika dalam hatimu ada racun yang hendak membuatnya layu dalam mekar

Sebentuk hati itu hanyalah perindu kepastian
Bukan kebasian
Sebentuk hati itu hanyalah pengharap keindahan
Bukan kekeliruan
Sebentuk hati itu hanyalah naluri tanpa logika
Maka jangan kau ajak ia berfantasi ria dalam maya yang tak terarah kemana lajunya
Sebentuk hati itu hanyalah kelemahan
Maka jangan kau tindas ia dengan cara yang indah
Sebentuk hati itu hanyalah kebodohan
Maka jangan kau bodohi ia dengan kefasihan
Sebentuk hati itu hanyalah kelelahan
Maka jangan kau kalahkan ia dengan kecurangan

Sebentuk hati itu adalah…
Aku… kamu… dan mereka…

Selasa, 20 Oktober 2009

Aku dan Dia

Aku mencintainya
Aku merindukannya
Aku mengaguminya
Aku membutuhkannya
Aku menantikannya
Seorang yang tak pernah kutatap wajahnya
Seorang yang tak pernah kudengar suaranya
Seorang yang tak pernah kumengerti perangainya
Seorang yang tak pernah kutahu tempatnya
Seorang yang tak pernah kusangka datangnya
Namun aku yakin orang itu adalah yang terbaik dariNya
Untuknya aku akan setia
Untuknya aku akan tertawa
Unuknya aku akan teteskan airmata
Untuknya aku akan ada
Untuknya aku akan menjaga

Untuknya... karena Allah semata

Stttt....

Ada yang menawan aku disini
dalam mimpi tak bertepi
mimpi yang seolah hakiki
hakiki yang seolah mimpi

Aku semakin bergulung dalam kekalutan
Mancari hari yang terlewatkan
Menanti sosok yang tersingkirkan
Dan kini pergi karena tak terhiraukan

Kemarin aku tak bisa mempertimbangkan
mana yang harus aku tunjukkan
wajah biru
atau malu

Hingga kini pun aku tak mampu memainkan
karena ini tak kuanggap sebagai permainan
dan akankah kamu kembali terulang?
dengan hati yang tak merasa terbuang

Minggu, 18 Oktober 2009

Tawa Ukhtiku Tercinta

Langit biru memperlebar tawa kita
Desau angin memenjara kita dalam ceria
Jengkal langkah semakin pendek terasa
walau hari begitu panjang bercerita

Kita tak merasa lelah
walau kadang merasa jengah
kita tak merasa kalah
walau pernah ingin menyerah

Dalam sedih masih saja ada tawa
dalam tangis masih saja ada canda

Dan begitulah rentetan hari membawa kita pada sebuah cerita
cerita tentang tawa yang tak ada habisnya

Mawar-Mawar Putih


Untaian mawar putih itu
berkelompok
kuncupnya sedikit terbuka
namun belum utuh mekarnya

Mereka mempesona diantara mawar lainnya
putih diantara merah

Berpegang pada aqidah dan syariah
kala mawar lainnya berpegang pada titah dunia

Mawar-mawar putih itu sedikit jumlahnya
hanya ada beberapa diantara ratusan mawar merah


Tak sedikitpun mereka mencecap nikmatnya haram cinta
tak sejengkalpun mereka tergoda untuk menjadi merah

Memang sudah menjadi fitrah
cinta, kebebasan, serta kesenangan
namun mawar-mawar putih
tetap suci pada putihnya
teguh melawan segala keinginan yang bermuara pada keharaman

Mawar-mawar putih
berbalut baju putih abu-abu
dengan kerudung lebar menutup malu
berjalan pada jembatan persahabatan
saling mengingatkan dan menguatkan
kala badai datang menggoyahkan

Mawar-mawar putih
tak sedikitpun terjamah
seperti mawar merah yang murah

Mawar-mawar putih
memenuhi janji diri
tak akan menyerahkan kesucian hati pada yang bukan dihalalkan

Mawar-mawar putih
berbalut baju putih abu-abu
bercengkrama di mushollah sekolah
berbincang tentang aqidah

Kini... mawar-mawar putih telah menapaki hidup yang berbeda
namun masih tetap pada prinsip yang sama
kini putih abu-abu tak lagi membalutnya
digantikan dengan jubah

Kini... mawar-mawar putih makin berseri
ditemani mimpi
ia menjadi muslimah sejati
InsyaAlloh...

Sabtu, 17 Oktober 2009

Rindu yang Dosakah Ini?

Tak ada suara
Bukan berarti tak ingin bicara
Tak ada tatapan
Bukan berarti kamu menjengahkan
Tak bisa mendengarmu
Bukan berarti tak ingin menyimakmu

Begitu banyak hal tentang diriku yang belum kamu tahu
Begitu banyak hal tentang diriku yang kamu anggap keliru

Sesungguhnya aku telah berkata
lewat mata tanpa suara
Sesungguhnya aku telah memandang
lewat tunduk tanpa wajah terpampang
Sesungguhnya aku telah mendengar
lewat tatapanmu yang terpancar binar

Aku tahu kamu
Aku mengerti hatimu
Namun kamu tak kunjung menangkap isyaratku

Aku takut ini berujung dosa
Memendam rindu pada seorang dambaan jiwa

Jika saja kamu lebih peka
Ini semua akan bermuara pahala
bukan menjadi kekhawatiranku "rindu yang dosa"

Untuk Calon Suamiku Nanti


Aku tak minta emas permata
Aku tak ingin istana megah
Aku tak mau pesta yang mewah
Yang kumau hanya sebuah janji setia
dan mahar seadanya

Sehelai mukenah
Atau selembar sajadah
Atau bacaan basmalah
Itu sudah sangat indah
Untuk menerimaku dalam kata nikah

Senin, 12 Oktober 2009

Dear Alloh

Kutuliskan rindu termanis
Untuk kasih yang tak akan terkikis
PadaMu... kutitipkan raga dan hatiku
PadaMu...kulimpahkan semua pengharapan
TanpaMu...apalah artinya langkahku
tiada berarah... tiada berkah apalagi hidayah

Kutitipkan semua cinta
pada pagi yang menyejukkan
pada siang yang menghangatkan
dan pada malam yang menenangkan

Tak ada sedikitpun kebimbangan
tak ada secuilpun keputusasaan
Yakinku penuh akan balasan dari segenap perbuatan
Namun satu yang aku titipkan... jagakan aku keistiqomahan
agar tak sejenakpun kupikirkan kejengahan

Masih Terlalu Pagi

Masih tercium wangi melati
Itu pertanda hari masih terlalu pagi

Masih teraba oleh tangan
Embun yang basahi dedaunan
Pertanda hari masih berkelanjutan

Masih mengintip sinar mentari
Pertanda pagi masih dini

Jika demikian adanya keadaan
Kumohon jangan aku kau tinggalkan

Aku belum mau sendiri
Aku belum mampu menjadi yang kau ingini

Aku belum bisa menggantikannya
Aku masih takut hadapi dunia... tanpamu... wahai matairku... dan juga muara dari semua tawa
Ibu....

Sabtu, 10 Oktober 2009

Sepi

Tak ada yang tahu arti dari senyum ini
Tak ada yang mengerti makna dari bahasa diri
Tak ada yang peduli dengan apa yang kujalani
Tak ada yang melihat duri dalam diri

Aku tak bisa meminta
Aku tak mungkin bercerita tanpa ditanya
Aku tak terbiasa menjadi seperti mereka
karena... aku beda
dan itulah yang membuatku sepi kala dunia tertawa

Kamis, 17 September 2009

Misteri Hidup

Hidup... benarkah ia adalah misteri?
Ataukah hanya arti yang tak sempat atau tak pernah kita cari
Hidup... seringkali memenjara kita dalam kata "pasrah" "jengah" atau bahkan "menyerah"
Benrkah hidup adalah misteri? Ataukah misteri itulah yang dinamakan kehidupan?