Senin, 29 Juli 2013

Kamis, 21 Oktober 2010

No tittle















tanpa judul
oleh Ummu Tsabita Azmi Zahira pada 17 Mei 2010 jam 19:52


Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana
Amat sederhana… tak seistimewa cintaku pada Alloh dan RasulNya…
Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana…
Sesederhana angin yang berdecak didedaunan lemah… hingga membawa ketentraman dalam keheningan
Sesederhana mekarnya edelweis… meski hanya menebar bau tanah dan warna tak secerah dahlia… namun mampu bertahan amat lama…

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang amat sederhana…
Sesederhana kayu yang tak mau berkata-kata ketika api membakarnya.. hingga muncul cahaya penentram dalam gulita

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
Sesederhana tetesan hujan yang jatuh membasahi tanah… tanpa menuntut ruang istimewa untuk meluncurkan tetesannya… rela membasahi tiap-tiap permukaan… dari padang rumput hijau penuh bunga… hingga pinggiran jalanan kota penuh limbah

Aku ingin mencintaimu dengan cara yang sederhana…
siapapun dia...
seorang yang telah Alloh pilihkan untukku
seorang yang kini masi menjadi misteri terindah dalam kuasa Nya

TIPS KECANTIKAN (Akhwat Only)

















berikut ada beberapa tips kecantikan yang mungkin bermanfaat bagi anti.. ^_^

1. Tips melentikkan bulu mata
caranya, ambil sebatang tanaman lidah buaya, kemudian diamkan semalam agar getahnya hilang. keesokan harinya tusuk bagian batang lidah buaya dengan menggunakan cuttonbad, lalu oleskan cuttonbad yang telah basah tersebut pada bulu mata. lakukan hal ini tiap pagi hari dan menjelang tidur, Insya Alloh bulu mata ukhti akan panjang dan lentik ^^

2. Tips merawat payudara
ambil buah tomat, cuci bersih kemudian belah, irisan buah tomat tersebut gosok-gosokkan di payudara, terutama bagian puting,setelah digosok-gosok pijat payudara memutar searah jarum jam selama kurang lebih 5 menit, kemudian bilas hingga bersih buah tomat dapat menghaluskan kulit payudara dan mencerahkan warna puting. lakukan tips ini secara rutin dan liat hasilnya.

3. Tips menghilangkan bau badan
jika ukhti mengalami masalah dengan bau badan, berikut merupakan tips yang diberikan oleh nenek saya. caranya : rebus segenggam daun beluntas, 5 lembar daun sirih, asam jawa, dan 100 gram kunyit (iris tipis). rebus dalam 3 gelas air atau sekitar 600ml, kemudian minum secara teratur paling tidak seminggu dua kali. dijamin Insya Alloh bau badan akan musnah ^^

selamat mencoba ukh... ^^

Jumat, 15 Oktober 2010

Pemikir Sejati (Just CERPEN bukan kisah nyata)

Pemikir sejati, itulah sebutan yang mereka tujukan pada diriku ini. Entah mengapa aku dilahirkan dengan otak yang selalu memikirkan masalah secara kompleks, bukan hanya masalah tetapi juga semua benda. Yah… saat melihat sepotong ikan asin yang ditumpangkan diatas nasi hangatku misalnya. Aku tak sertamerta langsung memakannya seperti apa yang terjadi pada ikan-ikan asin lain yang tergelatak kering diatas gundukan nasi panas yang berada di piring kakak-kakakku, bapakku dan ibuku.

Sebelum aku melahap ikan itu, aku terlebih dulu menyelami tragedi yang dialami oleh si ikan asin nan malang ini. Awalnya dia adalah materi berukuran sepersekian mili dengan wujud cairan sperma dan sel telur dari ibu bapaknya, kemudian… ia tumbuh menjadi setitik telur yang entah dimana tempatnya, mungkinkah dibawah batu karang? Ataukah diatas terumbunya atau mungkin melayang-layang di air samudera. Beberapa waktu kemudian telur ikan itu tumbuh menjadi seekor ikan yang berenang dengan kawan-kawan seperjuangan, mengarungi samudera menjelajahi setiap negri dasar bahari dan berkenalan dengan spesies laut lainnya. Akan tetapi naas benar nasib ikan ini, jala nelayan yang dilempar dan tergelar di samudera berhasil memerangkap tubuhnya, hingga ia tak bisa lari, dia merintih....memekik...menjerit...menangis namun tak ada yang mampu menolong karena kawanannya juga bernasib sama, terjerat dalam jaring dan hanya bisa melonglong tanpa suara karena tak ada satupun manusia yang bisa mendengar jeritannya. Setelah jaring berisi si ikan ini dan ratusan kawanannya diangkat ke atas kapal, para nelayan itu dengan bringasan menempatkan mereka kedalam drum-drum tanpa air, membuat si ikan malang sekarat, sesak napas dan akhirnya arwahnya menghadap Sang Pencipta. Tapi nasib tak sampai disitu, nelayan menyandarkan kapalnya ke dermaga dan menjual si ikan dan kawanan ikan lain yang berada dalam drum-drum kepada para pedagang dengan harga yang jauh dibawah ikan pindang, ikan caek katanya anyir tak bernilai bahkan seember harganya sama dengan serantang ikan pindang. Ikan caek juga disebut sebagai ikan krismon karena menjadi tersohor saat krisis melanda negri dan ia dijadikan santapan diatas meja makan rumah-rumah berbilik kardus, kayu dan bambu.

Tapi masih syukur jika si caek yang berpindah tangan pada pedagang langsung dibeli oleh pembeli dan dimasak selagi segar. Tapi… karena jumlah kawanannya yang berjuta-juta bahkan bermilyar-milyar jiwa di dalam samudera, membuat si caek tak langsung laku. Terlalu banyak caek di dalam drum-drum pasar ikan sehingga sekalipun ikan ini banyak dibeli tetap saja tak langsung habis begitu saja. Akhirnya si pedagang membawanya ke pabrik pengolahan ikan asin untuk diawetkan dengan butiran yang bernama garam. Ehm… andai saja si caek ini langsung laku saat jasadnya masih segar tentu perjalanan materinya tak terlalu panjang. Saat si pembeli mengeluarkan isi perut si caek kemudian si caek dicuci dan di goreng dalam minyak panas, lantas dijadikan santapan nikmat, nah… jika saja nasibnya begitu pasti si caek akan mengalami perjalanan yang lebih singkat. Lebih cepat menjadi feses kemudian masuk ke lubang kakus dan menguap melalui pipa sirkulasi WC, akhirnya si caek tak lagi bermateri, dia hampa…dia sepi…dia tak ada…namun masih tetap berarti… berarti berkat jasa-jasanya yang telah membuat sebuah perhelatan panjang, perhelatan nelayan, pasar ikan, pasar tradisional, makanan dan pembuangan.

Akan tetapi tak demikian yang terjadi, si caek tak langsung dimasak selagi segar, dan itu tentu membuat rentetan pikiranku lebih panjang. Dan kini… aku ingin pikiranku kembali pada nasib si caek dalam tragedi pengasinan tadi.

Tubuh si caek dirobek menjadi dua bagian, hingga membuat tulang lunaknya berada di salah satu bagian. Kemudian si caek dilumuri butiran garam. Ditelungkupkan diatas tampah. Dijemur berhari-hari dibawah terik sinar matahari. Dibolak-balik...dijemur lagi...dibolak-balik...dijemur lagi. Hingga si caek benar-benar menjadi ikan asin sejati...ikan asin yang benar-benar kering dan siap untuk dipasarkan.

Masih dengan kawanan caek lain, dan tentunya ditempat pengasinan itu caek yang ada berasal dari berbagai penjuru, meski bukan penjuru dunia, tapi...kebanyakan dari mereka tak saling mengenal semasa hidupnya. Mereka disatukan setelah menjadi ikan asin, dipenat-penat ke dalam karung atau kantong plastik, ditimbang dan dijual kepada para pedagang pasar yang siap mengecernya pada ibu-ibu rumah tangga dengan budget belanja di bawah rata-rata.

Saat tiba dipasar, si pedagang dengan suara peratnya dan logat khas promosi pasar tradisional, berulang kali memuji-muji caek ini ”ikan asin baru kulak, rasanya gurih dan murah sekali” dan dengan selembar uang seribu rupiah ibuku membelinya. Seribu rupiah mendapatkan sepuluh ekor ikan caek asin. Sepuluh ikan caek itu akan dijadikan menu sarapan dan makan siang.

Pagi ini lima ikan caek telah digoreng. Subuh tadi ibu menggorengnya didalam minyak jelantah bekas menggoreng ikan teri kemarin. Kelima caek goreng itu baru saja ada di meja, satu ekor dipiring ibu, satu ekor di piring bapak, di piring dua abangku masing-masing satu, dan satu lagi dipiringku. Dan hanya caek yang ada dipiringku ini yang belum mengalami wisata pencernaan, selebihnya atau empat kawannya yang ada di piring abang-abangku dan piring bapak ibu telah atau sedang mengalami perjalanan itu.

”Hey... sudah mikirnya! Cepat makan sarapanmu, si ikan caek sudah menunggu untuk masuk kedalam mulutmu!”
Ibu menggertakku untuk yang ke... tujuh dikali tiga ratus enam puluh lima hari kemudian dikali tiga kali (sarapan, makan siang dan makan malam) hasilnya 7.665 yah sudah 7.665 kali aku melakukan aktifitas ini, sudah tujuh tahun aku jadi pemikir sejati. Pemikir sejati yang mengawali kariernya saat berumur enam tahun.

Mereka bilang perjalanan karierku sebagai pemikir sejati sama sekali tak berarti bahkan ibuku sendiri sangat geli dengan kebiasaanku ini. Aku tak mengeti mengapa mereka bisa bilang begitu. Ehm... padahal andai saja mereka tahu, betapa nikmatnya menjadi pemikir sejati. Pemikir yang menyelami segenap kejadian yang terjadi hingga akhirnya rentetan kejadian itulah yang membuatku merasakan kenikmatan... kenikmatan yang tersajikan dihadapanku. Dan sajian kenikmatan itu adalah riski yang Ia beri, dan selalu... diujung pemikiranku aku ucapkan rasa syukurku.

”Gleg’ suara air yang mendorong si ikan caek asin menggema di kerongkonganku. Alhamdulillah... setelah sekian panjang perjalananmu... kini akhirnya kau akan sejenak berlabuh dalam wisata pencernaanku, esok hari kau akan kutemui lagi dalam keadaan kuning padat, namun pertemuan kita hanya sesaat... karena aku harus membuangmu masuk kedalam lubang kakusku, setelah itu rampung sudah tugasmu, tunai sudah perhelatan yang terjadi karenamu. Kau akan menguap... menjadi nonmateri yang tak lagi berenang...menginjak ataupun terkapar kering berbau anyir.

Wahai... Dinda...



















Dinda… … …
Tak terasa perjalanan waktu telah mengubahmu. Kini kau sungguh berbeda dengan yang dulu. Dulu kau hanyalah gadis kecil lucu yang terlihat menggemaskan saat mengenakan pita-pita dirambutmu serta rok-rok mini dengan corak penuh keceriaan. Dinda...aku masih sangat ingat saat kita bersama-sama mencoba perlengkapan make up bunda serta mencoba satu demi satu sepatu berhak tinggi kemudian kita bergantian berlenggak-lenggok di depan cermin. Kita sama-sama merasa cantik kala itu. Dinda aku juga masih sangat ingat saat kau menyarankan aku agar aku menjadi penata rias kemudian kau memintaku untuk merias wajahmu dan menghias rambutmu dengan kembang sepatu yang kita petik bersama di taman rumah kita. Dinda...kini...itu semua telah menjadi kenangan indah yang tak mungkin dapat aku lupa. Dinda...kenangan itu sungguh berharga dan kuharap kau juga tak akan pernah melupakannya.

Dinda...apakah kau juga masih ingat tangismu dan bentakkan dariku saat kita bertengkar dulu? Masihkah kau menyimpan suara marahku jika aku menyalahkanmu atas kenakalan yang kau lakukan atau terkadang aku yang mencari-cari kesalahanmu agar mampu menjadi yang paling berkuasa diantara kita?
Dinda...aku rindu saat-saat itu, saat dimana tanah liat terlihat seperti tepung dimata kita, saat lumpur terlihat seperti adonan kue lezat yang kita masak diatas tungku yang tak ada apinya namun...imajinasi kita mampu membuatnya nampak berkobar dan mematangkan adonan kue kita.

Dinda... perjalanan waktu telah sedikit demi sedikit mendewasakan aku. Hingga kau menganggap aku tak lagi sayang padamu karena aku selalu tak mau saat kau ajak bermain adonan tanah liat seperti dulu.

Dinda...kini perjalanan waktu juga telah mengubah seluruh yang ada di jiwa dan ragamu. Kini...kau menjelma menjadi bidadari cantik. Bidadari yang seringkali membuatku takut. Bukan... ketakutanku bukan karena ku khawatir kau akan menyaingiku. Karena kutahu dan sadar walau bagaimanapun aku tak akan mampu menyaingimu. Dinda...tahukah kamu apa yang membuatku selalu takut? Aku selalu takut melihatmu terluka. Aku selalu takut melihatmu sengsara.

Dinda...kau pasti masih ingat saat kau menanyakan kain penutup kepala yang aku kenakan? Waktu itu kau masih sangat lucu dan lugu. Sedangkan aku sudah memulai fase remajaku. Kala itu kau bertanya ”Kakak...kenapa Kakak memakai kerudung?” Saat itu aku hanya mampu tersenyum sambil berkata padamu ”Kakak memakainya karena ini adalah kewajiban kita yang utama, suatu saat nanti kau juga harus memakainya!” lalu kau menjawab dengan polosnya ”Kalau tidak memangnya kenapa?” aku menjawab dengan kalimat yang terkesan terlalu menakuti ”Kau akan jadi penghuni neraka!”

Dinda...kini kau mengerti bahwa kau bukan kau yang dulu lagi. Kalau dulu kau terlihat lucu dengan pita-pita dirambutmu serta rok-rok pendek yang bercorak ceria. Kini...kau pasti akan lebih cantik jika mengenakan pakaian kebanggaan muslimah. Pakaian yang mampu menyimpan rapi mahkota dan permata paling berharga yang engkau miliki. Dinda...jika dulu orang selalu gemas melihat pipimu...kini...tidakkah kau sadari bahwa pipi dan wajah itu mampu menjadikan para pria diluar sana terpesona karena cantiknya? Dinda...jika dulu lincah tubuhmu selalu mendatangkan gelak tawa bagi siapa yang melihatnya, kini...tubuhmu telah berlekuk. Dan tahukah kamu lekuk itu mampu membuat pria berkeinginan dalam hatinya? Dinda...kau pasti tak mau kan jika mahkota dan permata yang paling berharga milik dirimu itu dirampas oleh tangan-tangan yang tak layak menyentuhnya? Dan dilihat dengan seenaknya oleh mata-mata yang haram untuk melihatnya.

Dinda...kau adalah adikku yang sangat cerdas, kau pasti mampu mengerti dengan mudah akan apa yang aku tuliskan ini. Akan tetapi lebih dari sekedar yang kau baca di atas tadi. Aku ingin kau mengerti pula esensimu di dunia. Aku ingin kita bersama-sama mempelajarinya. Seperti halnya saat dulu kita bersama-sama membuat adonan tanah liat yang seolah menjadi adonan kue lezat dalam imajinasi kita. Tapi...kini aku ingin kita belajar bersama-sama dengan menggunakan syariah yang ada bukan semata-mata imajinasi yang kita gubah hanya untuk kesenangan semu belaka.

Dinda...aku ingin kita bersama-sama mencoba mentadzaburi kalam-kalamNya yang sungguh Indah. Seperti halnya saat dulu... saat kita bersama-sama mencoba make up bunda pada wajah kita. Dinda...aku ingin kita bersama-sama mempertinggi keikhlasan dan kesabaran kita... seperti halnya saat dulu... saat kita mempertinggi kaki mungil kita dengan memakai sepatu-sepatu tinggi ibu. Dinda...jika dulu kau menyarankanku agar menjadi penata rias wajah dan rambutmu, kini...izinkanlah aku menyarankanmu agar kau menjadi yang terbaik untuk dirimu. Jika dulu kita selalu memetik kembang sepatu di taman rumah kita, kini... aku ingin sekali mengajakmu untuk bersama denganku memetik hikmah dibalik segenap peristiwa.

Dinda...akan tetapi aku tak ingin lagi memarahimu seperti dulu. Karena yang kini aku inginkan hanyalah mengajakmu ikut serta denganku. Dinda... aku tak pula ingin kau menangis seperti dulu. Karena yang aku inginkan hanyalah kau tersenyum seraya menganggukkan kepala dengan tawaran yang telah aku sampaikan. Dinda... aku juga tak ingin meninggalkanmu bermain sendiri seperti dulu. Namun yang kuinginkan kini... kita bersama... selalu bersama melawan segenap permainan dunia.

Sabtu, 28 Agustus 2010

JALAN YANG PANJANG




















Betapa jauh jarak


Langkah kaki tak akan terhitung dengan pasti

Asa itu memburam... namun tak akan pernah tenggelam







Alloh... aku sepi... lelah dan pasrah

Namun berharap bahwa esok akan indah





Alloh... izinkan aku sekali lagi

Sekali lagi mengharap bahwa masih ada jalan menuju senyuman





Alloh.. aku terjaga

Ketika rumah-rumah telah mematikan lentera

aku terjaga, ketika jalanan kota tak lagi bersuara

biarkan aku bersimpuh.. memulihkan segenap luka dengan airmata ketakutanku akan dosa yang kupunya

Aku pun menangis.... dengan airmata yang membanjiri hati yang teriris





Alloh... jagalah ia ketika aku tak mampu berada di dekatnya

Aku tak bisa menolong

Hanya sebuah doa yang kuyakini Engkau mendengarnya





Alloh... Kami hanya ingin menjadi orang yang setia padaMu

Dengan tak membuatMu cemburu





Aku harus meninggalkan ini... ketika aku baru menemukannya

Karena aku lelah... aku kesepian dan aku merindukanMu lagi



Alloh...jangan biarkan aku menyerah dengan cara yang egois

Dan jangan biarkan yakinku terkikis



Harapan itu masih ada

Selalu ada...

harapan untuk menjadi mutiaramu yang tetap terjaga...

Senin, 09 Agustus 2010

HATI-HATI IKHWAN KAWAT




















Ikhwan kawat
Gampang bilang cinta ke akhwat,,
Cinta diobral seribu empat (kerupuk kaleee)
Ikhwan kawat
Gak ada kerjaan iseng2 telponin akhwat
Gak diangkat kirim pesan singkat
Bilang kalau ada hal pentiiiiiing sangat
Awalnya bicara sok gawat
Eh ujung-ujungnya ngajakin curhat
Tau gitu kaga gue angkat :P
Ikhwan kawat
Hobi tebar pesona kayak atraksi silat
Dengan Segala jurus pemikat
Kasi perhatian lebay amat
Biar dikata pria penyelamat
Ikhwan kawat
Mondar-mandir kayak lalat
Mata jelalat liat aurat
Ikhwan kawat
Bicara bak malaikat
Ingin kelihatan perfect terhormat
Ikhwan kawat
Walo kantong kere amat
Gaya tetap kayak konglomerat
Kasi hadiah ke akhwat
Alasannya biar ukhuwah semakin erat
Ikhwan kawat
Di depan cewek celana panjang amat
Giliran cadariun lewat
Celana diangkat, digulung2 kayak ketupat
Ikhwan cap kawat
Hobinya kirim sms nasehat
Tapi kok Cuma kirim ke para akhwat?
Temen ikhwan malah kaga keingat
Ikhwan kawat
Nadhor kok hobi amat
Tiap ada kesempatan pasti diembat
Kalo tampang akhwat ga kayak Revalina S Temat
Nadhor langsung dinyatakan tamat
Ikhwan cap kawat
Kalo gak bisa nahan syahwat kenapa ga zawaj ???
Ikhwan kawat
Jadi orang tolong jangan genit-genit amat
Komen di status akhwat pake emod yang bikin gak kuat ^_~ ^_*
Pipi si akhwat jadi merah kayak tomat
Ikhwan kawat
Tolong jangan emosimu mencuat,, karena ini Cuma nasehat
Pis gan… ^^”V hehe…

Minggu, 01 Agustus 2010

Duhai Calon Suamiku...































Duhai caLon suamiku....

bila kelak disaat kita hidup bersama kalaulah masih ada yg terlihat salah pada diriku, semoga engkau bisa melihat kebaikanku yang lain. Bukankah Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, "Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, "Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka." Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, "Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?" Ali r.a. pun menjawab, "Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya." Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, "Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian." Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku...
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, "Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya." [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Wahai Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini...
Aku telah jatuh cinta kepada lelaki pasangan hidup ku,
jadikanlah cinta ku pada suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal alamin.

duhai calon suamiku..

siapapun dirimu..ingatlah bahwa bukan urutan pertama, kedua atau ketiga yang kubutuh darimu. tapi hanyalah sebuah komitmen suci atas nama ALLAH.. yang kita sadari bersama bukan kesenangan duniawi semata yag kita cari...hingga kita dapat berbuat seimbang dalam menikmati nikmat dunia dan menabung demi bekal akhirat kelak..

duhai calon suamiku..

bukan diagung-agungkan yg kuinginkan darimu..tapi hanyalah sekedar kerendahan hati untuk saling mengerti dan berbagi suka dan duka itu.. dan motivasi serta saling mengingtkan dalam segala hal untuk memperbaiki diri dari detik ke detik yg kita tidak pernah tau kapan detik terakhir kita di dunia..

duhai calon suamiku...kuharap kaulah lelaki soleh lagi mensolehkan itu, semoga diri yg nista ini..masih pantas mereguk nikmat agung itu..

dan ingatkan aku,,tuk trus bermuhasabah, agar pantas mendampingimu dunia akhirat..

aminnnn,,allahuma aminnnn...”

Senin, 21 Juni 2010

Selamat Jalan Ukhti...

septia, at 20 Des 11.pm

Malam berpendar dalam sunyinya, aku belum mengantuk, masih begitu banyak tugas kuliah yang mesti kukerjakan. Tapi… aku tidak sedang mengerjakannya, karena kini aku lebih tertarik untuk meluapkan rasa haru sekaligus kehilangan, sekalipun aku tak mengenal siapakah orang yang telah pergi itu…
Aku termangu menatap layar FB ku, dalam sebuah status salah satu temanku “Hanunah Naurah Lam’aa” aku membaca sebuah berita duka (at 20 desember skitar pukul setengah sebelah malam)

“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, telah berpulang ke hadirat Allah saudari kita IMA FATAYA (teman FB) Semoga amal beliau diterima disisiNya, diampuni dosa-dosanya dan mendapat kedudukan disisiNya. Kami pasti merindukanmu ukhtii… saudariku yg selalu memberikanku semangat dalam menuntut ilmu”
Awalnya saya hanya terharu tanpa tangis, tapi… sesaat kemudian saya ingin sekali membuka profil ukhti IMA FATAYA, karena beliau bukanlah teman FB saya, akhirnya saya buka profilnya melalui frendlist ukhti Hanunah.

Saat membaca status terakhir yang almarhumah tulis, tak terasa butiran airmata ini mengalir, sekujur tubuh saya merinding, jantung saya berdetak kencang.
Tahukah kalian apa yang almarhumah tuliskan dalam status FB terakhirnya? (at 15 desember)
Berikut bunyi pesan terakhir tersebut
“Assalamu alaykum Akhwatiy… jazaakunnallah khoyr karena kalian bersedia menjadi sahabatku, n sudi untuk membagi ilmu padaku, tak ada yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan kalian, kecuali doa” semoga Allah membalas kebaikan kalian dan memudahkan jalan kalian hingga menuju surga Nya” Amiin, AKU IJIN PAMIT AKHWATII , maafkan atas semua khilaf n salah yang pernah aku lakukan, yang membuat kalian terluka, aku minta keikhlasannya semua. Uhibbukunna Fillah”

Dan sahabat-sahabatnya pun bertanya apa maksud dari kata PAMIT itu, memangnya ia hendak kemana?

### pamit mau kemana ukh?
###kenapa pamit ukh?
###afwan mau pamit kemana ukh?
### ima harus semangat ,sabar nak, bersama kesulitan pasti ada kemudahan (ayahanda ima)
###resign dari fb? Kok tiba-tiba jeng? Chat by YM nya masih tetep kan?


Almarhumah IMA menjawab dalam untaian kata yang membuat airmata ini semakin tak terbendung
“Jazaakunnallah khoyr… tidak aku pungkir dengan fb aku dapat banyak manfaat, bisa mengenal kalian yang selalu membagi ilmu padaku, tapi juga tidak aku pungkiri fb telah banyak menyita waktuku. Itu karena aku yang tidak pintar mengatur waktu… Boleh ana minta nomor hp antunna? Dengan itu ana harap silaturahmi kita tetap terjalin meski aku resign dari fb . Akhwatii… keep istiqomah”
“ @:Papaku
“Papa… kaulah yang selalu sabar menghadapi kelemahan anakmu, sabar ya pa tuk terus membimbing ima, semangat itu ada mungkin sedikit melemah, tapi tidak mustahil untuk bertambah, papa… luv u ^^”
Kemudian ayahanda ima membalas pesan manis yang mengharukan itu
“anakku, bukan ayah namanya kalau tidak penuh cinta pada putri kecilnya, apapun dan bagaimanapun ima, papa bangga sama ima dan akan selalu menyayangi ima. Senyumlah selalu anakku, karena tampak cantik dengan senyum”
Almarhumah Ima berkata dalam untaian kata yang membuat mata menangis namun bibir ini tersenyum
“Papa… ima terharu, ima pun bangga punya ortu yang bijak seperti papa, terimaksih pa… Putri kecil papa sekarang sudah dewasa sudah saatnya menggantikan peran papa tuk bertanggung jawab atas diri ima. Ima akan tersenyum selalu untuk bahagia papa. *senyum mengembang*”
Begitulah bunyi status terakhir saudariku IMA FATAYA yang aku tak sempat mengenalnya,
namun… kata-kata itu begitu menyentuh…
begitu bermakna… mengingatkan kita untuk tak lalai pada kewajiban yang utama, memberi kita ibroh yang nilainya tak terhingga.
Dan dari status Ukhti Hanunah Naurah Lam’aa. Saya kembali mendapat penjelasan tentang sebab kepergian ukhti IMA dan bagaimana kemuliaan akhlaknya, subhanalloh…
Berikut yang ditulis ukhti Hanunah
“beliau adalah teman fb ana… sakit lemah jantung … namun ana dengar kabar katanya telah sembuh, wallahu alam, /// meninggal tadi siang… beliau adalah salah satu akhwat penghapal Al Qur An Insya Alloh… semangat beliau dalam menuntut ilmu tak pernah pudar… nasehat beliau kepada ana sangat banyak dan bermanfaat sekali…beliau selalu berusaha menjauh dari maksiat dan bid’ah… selalu bertanya tentang sunnah… selalu ingin belajar bersama tentang dien… selalu bertanya tentang kekurangannya… banyak akhlak beliau yang bisa dicontoh, wallahu a’alam// T.T”

Subhanallah…
Kini hanya penyesalan yang ada dalam diri saya, kenapa sebelumnya saya tak sempat menjalin pertemanan dengannya

Sungguh akhwat berakhlak mulia…
Dalam ingatan dan hatinya ada Al Qur An
Dalam dirinya tentu terkandung kemuliaan
Dalam darah dan nadinya mengalir keistiqomahan…
Betapa kau telah menyiapkan diri demi kepergian ini...

IMA saudariku… walau kami belum sempat mengenalmu, namun catatan-catatanmu ini akan menjadikan kami mencintaimu… mencintaimu karena Alloh
IMA saudariku… status FB mu itu adalah ilmu pertama dan terakhir yang bisa aku dapat darimu, tapi… ilmu itu InsyaAlloh akan selalu berpendar dalam hatiku
Mengingatkan aku bahwa sang waktu adalah hal yang semakin berlalu, dan suatu saat nanti akan merenggut kita dari dunia fana ini menuju ke kehidupan yang sebenarnya
IMA ukhtiku… aku tak sempat mengenalimu…
tapi… semoga kelak kita bisa berjumpa di Jannah Nya, agar aku bisa menyampaikan kata “Jazaakillah khoyr atas ilmu yang bermanfaat ini dan uhibbuka fillah”
dan jika aku yang belum sempat mengenalimu merasa kehilanganmu… apalagi mereka yang pernah berbagi cerita, ilmu, tausiyah dan pengalaman denganmu…
tentu mereka begitu terpukul atas kepergianm
tentu mereka sangat kehilangan mutiara sepertimu
selamat jalan ukhtiku…
semoga terampungnya urusan duniamu ini disudahi dengankhusnul khotimah
semoga Alloh mengampuni segenap kekhilafan dan dosa-dosamu
semoga Alloh menerima segala amalan baik dan ibadahmu
semoga Alloh menempatkanmu diantara orang-orang sholeh dan sholehah
aku akan merindukanmu…
sekalipun aku tak pernah mengenalimu…
ya ukhti…

(semoga orang tua, saudara, sahabat, teman yang ditinggalkan mutiara terindah bernama IMA FATAYA bisa ditabahkan hatinya dan ikhlas menerima kepergian sang mutiara, karena InsyaAlloh mutiara itu kini sedang tersenyum damai di sisi Alloh, amiin… Allohumma amiin…)

Pesan Seorang Ayah Kepada Putrinya



















Nak… ketika ayah sedang di kantor, tiba-tiba terdengar senandung nasyid indah yang diputar oleh teman seruangan ayah…

Aduhai putriku sayang…
Lembutmu tak bererti
Kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbhakti
Lembut bukan hiasan… juga bukan kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati
Disebalik bersih wajahmu… disebalik tabir dirimu… ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada Ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri
Malumu mahkota yang tidak perlukan singgasana… tetapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
dari siapa yang akan mau merampasnya
melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri
Ketegasanmu umpama benteng negara dan agama
dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai putriku sayang
Kau bunga terpelihara
Mahligai surga… itulah tempatnya…
(PUTERIKU SAYANG by Hijjaz)

Nak… ayah lagi-lagi meneteskan airmata kala mendengar lagu itu, ayah bahagia…telah mampu memiliki bunga sepertimu… walaupun sesungguhnya ayah malu… karena bunga ayah bisa seindah itu bukan karena didikan ayah… melainkan atas kehendak dan kemauannya sendiri.
Nak ayah selalu tersenyum senang dengan apa yang ada pada dirimu… wahai putriku… ayah selalu melihat keasingan pada dirimu jika dibandingkan dengan remaja putri pada umumnya… betapa kau berani beda dengan mereka… betapa kau berani menjadi putih diantara kawanan merah, demi syariah dan izzah yang kau jaga.
Nak… remaja putri lain pada umumnya begitu senang mempercantik diri dengan pakaian-pakaian mininya, menonjolkan lekuk tubuhnya… namun engkau… apa yang kulihat dalam dirimu wahai putriku… saat masih begitu belia usiamu… kau memutuskan untuk menutup auratmu dengan sempurna… dengan gamis besar berwarna kelam dan khimar yang panjang… sekalipun ayah tak paham pakaian muslimah yang sesuai dengan syariat seperti apa, tapi ayah percaya dan bangga padamu… kau telah bisa mengistiqomahkan diri dengan pakaian itu kala usiamu masih sangat muda…masih baru duduk di bangku SMA. Dan ayah tak pernah peduli dengan omongan-omongan orang diluar sana yang menganggapmu terlalu ekstrem dan fanatis. Ayah tak peduli… karena ayah percaya padamu…
Nak… ayah bangga padamu, sejauh dua puluh tahun ini ayah belum pernah melihatmu dekat dengan teman pria, itu bukan karena kau tak menarik… tapi… itu karena kau selalu menghargai dirimu, kau tak menghiraukan mereka… hanya karena Allah semata.
Nak… kaulah bunga yang tak pernah terjamah, wajah dan tubuhmu masih utuh terjaga.
Nak… jika orangtua lain menengok kamar putrinya yang masih remaja, tentu yang akan ditemuinya hanyalah tumpukan boneka dan botol-botol kosmetika, tapi… itu tidak terjadi pada ayah, kamarmu… kau penuhi dengan kitab-kitab tentang agama, kitab-kitab yang bukan pemberian dari ayah melainkan kitab yang kau beli dengan susah payah mengumpulkan sisa uang bulanan.

Nak… jika remaja putri lain sangat senang berkunjung ke salon atau jalan-jalan ke swalayan… tapi… itu tak terjadi pada putri ayah, yang ayah tahu kau selalu datang ke majlis ilmu, atau jika tidak demikian kau lebih suka berdiam diri di rumah.

Nak… satu kalipun sejauh dua puluh tahun ini, ayah tak pernah mendengarmu meminta izin untuk kencan, yang selalu ayah dengar kau selalu minta izin untuk berkunjung kerumah teman wanitamu atau ke majlis ilmu, dan… sama sekali ayah tak pernah menaruh curiga bahwa diluar sana kau akan berbuat yang macam-macam, karena ayah tahu bagaimana kejujuran lisanmu dan bagaimana perangai dirimu…

Nak… tiba-tiba ayah tersentak… kini usiamu sudah dua puluh tahun, sepertinya gerbang itu akan segera kau masuki… gerbang indah… yang disisi lain tak mudah bagi ayah menerimanya. Karena ayah tahu saat gerbang itu termasuki olehmu… pertanda ayah harus melepaskanmu.

Dan hanya satu pesan dari lelaki renta ini…
Kelak jika kau telah berkeluarga… jangan pernah berubah…
ayah masih ingin mendengarmu … walau nanti tak bisa tiap hari,
ayah masih ingin bertemu dan bercengkrama denganmu… walau sesekali saja…
ayah masih ingin mencicipi masakanmu… walau jarang…
ayah masih ingin jalan-jalan di taman denganmu walau tak setiap akhir minggu...

Nasehat Perekat Hubungan Suami Istri





























Saudariku kaum muslimah, bacalah wasiat Asma” binti Kharijah, istri Auf Asy- Syaibani kepada putrinya sebelum pernikahannya, niscaya Anda akan mendapatkan perkataan yang lengkap tentang dasar-dasar hubungan suami istri dan adab-adab yang mesti dilazimi oleh setiap wanita terhadap suaminya.

Asma’ berkata kepada putrinya,
“Wahai putriku! Jika wasiat disampaikan karena suatu keistimewaan atau keturunan maka aku tak akan memberikan wasiat ini kepadamu. Akan tetapi wasiat merupakan pengingat bagi orang yang mulia dan bekal bagi orang yang berakal.
Wahai putriku ! jika seorang perempuan merasa cukup terhadap suaminya lantaran kekayaan kedua orangtuanya dan hajat kedua orangtuanya kepadanya, maka aku adalah orang yang paling merasa cukup dari semua itu. Akan tetapi perempuan diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk perempuan.

Wahai putriku, tak lama lagi kau akan keluar meninggalkan ayunan tempat kau ditimang dulu, dan berpindah ke atas ranjang yang belum pernah kau lihat sebelumnya. Kau akan hidup bersama seorang kawan yang belum pernah kau kenal sebelumnya.

Oleh karena itu, jadilah bumi tempat ia berpijak, maka ia akan menjadi langit yang menaungimu. Jadilah dirimu tempat sandaran baginya, maka ia akan menjadi tiang yang meneguhkanmu. Jadilah pelayan baginya, ia akan menjadi abdi bagimu, dan jagalah sepuluh perkara yang menjadi haknya, niscaya ia akan menjadi simpanan bagimu.
Pertama dan kedua:
Tunduk kepadanya dengan penuh qona’ah dan senantiasa mendengar dan menaatinya dengan baik.

Ketiga dan keempat;
Perhatikanlah keadaan dirimu di hadapannya. Jangan sampai ia memandang jelek dirimu dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali wewangiaan.

Kelima dan keenam:
Perhatikanlah waktu makan dan tenangkanlah ia tatkala tidur, karena panasnya kelaparan sangat menjengkelkan dan gangguan tidur dapat memancibg kemarahan.

Ketujuh dan kedelapan
Jagalah harta dan keluarganya. Kecakapan dalam mengelola harta adalah pengaturan keuangan yang bagus, dan kekuasaan dalam keluarga adalah mengatur mereka dengan baik.

Kesembilan dan kesepuluh
Janganlah engkau langgar perintahnya dan jangan engkau sebarluaskan rahasianya. Jika engkau melanggar perintahnya berarti engkau merobek dadanya dan jika engkau menyebarluaskan rahasianya engkau tidak akan aman dari perceraiannya.

Kemudian janganlah engkau bergembira dihadapannya ketika dia sedang bersedih hati atau bersedih hati ketika dia sedang bergembira. Bagian pertama merupakan sikap meremehkan dan yang kedua akan mengeruhkan suasana.

Jadilah engkau orang yang sangat memuliakannya, niscaya dia akan lebih memuliakanmu. Jadilah engkau selalu sepaham dengannya, niscaya dia akan menajdi teman yang baik bagimu.

Dan ketahuilah, sesungguhnya engkau tidak akan dapat menggapai apa yang engkau cintai sehingga engkau lebih mengutamakan keridhaannya di atas keridhaanmu dan keinginannya di atas keinginanmu, baik dalah hal yang engkau suka maupun yang engkau benci. Semoga Alloh menjadikan baik urusanmu.”

Alangkah indahnya jika setiap ibu memberikan bekal kepada putrinya dengan adab-adab yang indah dan nasehat-nasehat yang penuh cahaya seperti di atas yang mencakup seluruh hak-hak suaminya.

Saya ketik ulang dari buku ”Nasehat Perekat Hubungan Suami dan istri”
11 Juni 2010

Dalam Pagi Yang Menakjubkan


















Bila nanti
Masa &qadar tlah brpendar

Tiada lagi risau yg mengacau
Tiada lagi rindu yg mencandu
Tiada lagi takut yg menyulut

Semua akan kusambut, dengan sekuntum mawar putih yang masih mengerucut

Tak perlu khawatir dengan duri, karena ia tlah trbuang pergi

Saga senja kan kita tatap bersama
Kelam malam kan kita jadikan sarana menyelam dalam kalam-kalam semesta alam

Biarlah waktu menjaga yang kelak jadi milikmu.. Seolah duri yang menghiasi mawar putih

Tenanglah dalam keharibaan Tuhan

Karena semua akan tertemukan dalam pagi yang menakjubkan

Senin, 18 Januari 2010

Zahratussita (kisah bunga musim dingin)


Sebuah kisah... *_*

Kisah tentang bunga musim dingin...

Dipelataran tawa... ia menggenggam cita... bisa segera menemui musim dinginnya
Dalam senyumman ia berkata "aku menunggu salju"
Tapi... tiba-tiba saat bulir-bulir salju itu menerpanya... Mentari merengkuhnya... membisikkan sebentuk desir asa "Belum saatnya kau temui musimmu"


Bunga musim dingin kecewa... bermuram durja .. >_<..
kenapa ia tak diperkenankan menemui musimnya, dalam termangu ia menatap langit biru... dijumpai dalam pandangan mata... angkasa luas...awan berarak... lengkung pelangi.. hemm,, sungguh indah sekali...


kemudian ia alihkan pandangan... dijumpainya aliran sungai... dan kumpulan bunga lain yang segar teruntai... di dahan-dahan landai...


Bunga musim dinginpun terperanjak dari termangunya " Yah... musim ini masih sangat indah...terlalu indah untuk ditinggalkan... batang hari masih tinggi... mentari juga masih ingin menatap dan ditatap berseri-seri... berseri-seri dalam pancaran yang tak terbagi"


Ketika itu pula mentari berkata... "Zahratussita (bunga musim dingin)... musim semi ini... ataupun kemarau nanti... itu tak akan membuatmu layu.. kau akan tetap menjadi bunga terindahku... walau kutahu sesungguhnya duniamu adalam musim dingin dan salju... bunga musim dinginku (Zahratussita)... tersenyumlah... perindahlah mahkota bungamu dengan warna-warna cita yang belum terlaksa... harumkan putikmu... dengan aroma kiriman surga... kuatkan kelopakmu dengan ujian dan kesabaran... teguhkan tangkaimu dengan angin kemarau... hijaukan daunmu dengan embun musim semi... Dan kelak... jika tiba waktunya... tersenyumlah... temuilah musim dingin yang kau cari... rengkuhlah salju terputih dan terlembut yang kau ingini... agar mekarmu... menjadi indah sempurna... indah pada waktunya..."


indah pada waktunya...
Zahratussita...

Minggu, 03 Januari 2010

Home Sweet Home


Disini bukan pabrik permen...
Tapi disini... aku mampu merasakan begitu banyak hal manis

Disini bukan negri dongeng
Namun disini...kutemui banyak keajaiban

Disini bukan istana megah
Tapi disini... aku merasa istemewa dan telah memiliki segalanya

Disini bukan surga
Namun disini aku merasa seolah hidup di dalamnya

Disini duapuluh tahun sudah aku temui sang pagi, Dua puluh tahun sudah kulewati hari, mengukir kisah yang indah bersama dengan untaian-untaian permata.
Untaian permata itu ada tujuh, salah satunya adalah aku, namun yang satu kini telah terpisah jauh, namun dihati enam permata lain engkau selalu bersama.

Disini... selalu ada kehangatan yang menyejukkan
Disini ...selalu ada cinta, dalam sabar ataupun marah, disini selalu ada penjagaan dalam lelah ataupun kuat, disini selalu ada berbagi dalam ada atau tiada, disini selalu ada kasih dalam sakit ataupun sehat, disini selalu ada senyum ikhlas disetiap pagi ataupun malam

Tak ada tempat lain seperti disini...

Rumahku...surgaku
Rumahku.. istanaku
Rumahku kotak permataku, permata yang selalu menemaniku dan paling mengerti tentang bagaimana aku. Permata-permata itu berkilau dengan sinar dan bentuk yang berbeda, membuat hidupku semakin berwarna. Satu permata... selalu bangun paling awal dipagi hari, menggugah yang lain dengan aroma masakan, permata yang satunya lagi setiap pagi sibuk dengan perkutut kesayangannya, permata hitam kecil sibuk dengan PR-PR nya yang lupa tak dikerjakan semalam, satu permata biru selalu susah untuk dibangunkan, dan satu permata yang belum lama ini hadir dalam kotak harta karun kami selalu sibuk dengan alat kebersihannya, dia adalah permata berwarna nila cantik, dia menjadi pelengkap isi harta karun ini, kehadirannya menjadikanku memiliki apa yang sebelumnya tak kupunya.

Tak ada tempat lain seindah disini...
kemanapun aku akan pergi... hanya tempat ini yang akan kurindui
wajah-wajah itu...
susu dan teh hangat yang selalu menyatukan kami kala pagi, menemani setiap cerita dan pernyataan rencana handak apa saja dan nanti pulang jam berapa

itu semua adalah cerita yang terbingkai dalam pigura cinta
itu semua adalah nyanyian dengan nada syahdu
itu semua adalah syair dengan rima indah

Rumahku surgaku
Rumahku istanaku
semoga ia berdinding pagar ikhlas, ikhtiar dan tawakal
beratap ridho dan barokah Alloh
dan beralas cinta kasih
agar kelak tujuh permata dan segenap keturunanya dapat hidup mulia di surga yang sebenarnya... amiin Ya Rabbal alamin...

Untuk Tujuh buah permata

Sabtu, 02 Januari 2010

Sebentuk Hati

Dari balik jendela jiwa, seulas senyum manis itu sedang menanti asanya yang tak kunjung tiba
Menepi diperbatasan pupus, merangkai rasa teramat mulia namun tak dikultus
Tiada yang tahu apa dibalik senyum itu
Tiada yang mengerti bahwa disana ada sebentuk munajah indah dalam lelah
Menanti kepastian yang tak pasti

Jangan…
jangan sekali-kali kau membawanya terbang menjelajah nirwana maya
pabila yang kau ingin hanyalah patahkan sayap-sayapnya
karena… bagaimana kelak ia kan bisa menjangkau cinta yang lainnya, jika sayapnya terpatah dan keindahan nirwana nyata tak lagi bisa meyakinkan ragunya

Jangan…
Jangan sekali-kali kau beri ia sekuntum mawar tanpa pembatas
Karena harum dan cantik mawar kan membuatnya sejenak tertawa, namun durinya kan meninggalkan torehan luka yang kan lama menganga

Sebentuk hati itu bagaikan salju dingin nan rapuh
Terlihat angkuh dalam beku, namun kala kau meremasnya ia akan hambur dan hancur
Sebentuk hati itu bagaikan bunga mekar
Jangan kau untai pujian ataupun membuat kelakar-kelakar yang buat wajahnya berbinar
Jika dalam hatimu ada racun yang hendak membuatnya layu dalam mekar

Sebentuk hati itu hanyalah perindu kepastian
Bukan kebasian
Sebentuk hati itu hanyalah pengharap keindahan
Bukan kekeliruan
Sebentuk hati itu hanyalah naluri tanpa logika
Maka jangan kau ajak ia berfantasi ria dalam maya yang tak terarah kemana lajunya
Sebentuk hati itu hanyalah kelemahan
Maka jangan kau tindas ia dengan cara yang indah
Sebentuk hati itu hanyalah kebodohan
Maka jangan kau bodohi ia dengan kefasihan
Sebentuk hati itu hanyalah kelelahan
Maka jangan kau kalahkan ia dengan kecurangan

Sebentuk hati itu adalah…
Aku… kamu… dan mereka…

Minggu, 27 Desember 2009

Ketika Cinta Berbagi

Ketika itu…
Kita berbeda dengan yang lainnya
Begitu banyak yang mencela bahkan memandang sebelah mata
Ketika itu...
Mutiara...mutiara itupun menyatu
Terjalin lewat untaian benang persahabatan
Mengubah butiran mutiara menjadi seutas kalung indah
Sahabatku... biarlah mereka mencela bahkan memendam prasangka
Bagiku...engkau adalah untaian mutiara
Untaian yang membuatku merasa bahagia karena menjadi salah satu bagian didalamnya...


What’S Wrong With Me?

Bising rasanya telinga ini, sesak rasanya dada ini saat harus kembali menerima kata-kata menyakitkan “hari gini belum tahu yang namanya pacaran?” yah itulah sebuah susunan kata yang mereka rangkai menjadi sebuah kalimat sindirin nan menyakitkan menusuk jantung menikam hati. Dan aku tak pernah tahu harus menjawab sindiran itu dengan kalimat yang bagaimana. Aku hanya bisa memandang kecut kearah mereka sambil melempar senyum tak simetris. “Percuma” aku membatin dalam hati, tak akan ada yang mengerti mengapa aku selalu sendiri...sendiri tanpa kekasih.
Oh ya jangan kira saat membaca paragraph diatas kalian beranggapan bahwa aku ini seorang gadis dengan tampang mengecewakan atau perawakan bundar tak karuan sehingga sampai kelas dua SMA tak pernah punya pacar. Bukan, sekali lagi bukan karena itu. Meski tak berwajah secantik Dian Sastrowardoyo atau Sandra Dewi wajahku bisa dibilang lumayan manis yah kira-kira bisa disamain ama manisnya suwar-suwir (manisan tape yang notabene makanan khas Jember kota kelahiranku tercinta), ini bukan menurutku lho tapi konon katanya orang-orang sekitar. Eh...tapi setelah aku pikir-pikir tuh suwar-suwir kan asalnya dari tape... jadi meskipun manis kayak manisan...kalo manisannya terbuat dari tape lah kan rasanya beda! Iya...ya...suwar-suwir itu kan mengandung rasa kecut yang lebih kuat daripada rasa manisnya! Ahh...berarti selama ini aku kecut-kecut manis dong! Alias lebih banyak kecutnya ketimbang manisnya. Wah...awas yah bagi sapa aja yang pernah bilang diriku ini manis kayak manisan suwar-suwir...tunggu pembalasanku. Perawakanku juga tinggi semampai walaupun sedikit kerempeng. Tapi yang jelas aku memilih predikat jomblo bukan karena nggak laku, karena terbukti lumayan sering SMS berdatangan yang isinya mengajakku menjalin relasi percintaan atau yang lebih sering disebut dengan “PACARAN” di laci meja belajarku juga ada beberapa surat cinta dan tak jarang teman-teman di sekolah mencoba mencomblangiku dengan kawan mereka yang ingin mengenalku lebih dekat. Tapi tak satu pun dari mereka yang ku gubris, bagiku aku adalah aku yang hidup dengan prinsipku, dan jika aku menyalahi prinsipku ini berarti aku telah mengkhianati diriku sendiri. (ciehh...narsis-narsis dikit nggak apa-apa kan?)
Sampai akhirnya pertahanan diriku mulai goyah saat yang mencoba PDKT itu kakak kelas yang lumayan TOP. Tampangnya cute dan manis. Kata teman-teman dia mirip ama Tommy Kurniawan. Ibarat musafir haus akan air aku mulai memikirkan bagaimana kiranya jika ia menjadi pacar pertamaku. Menjadi seseorang yang akan selalu mengantar jemput aku ke sekolah, pasti selain ngirit ongkos juga bisa membebaskan aku dari predikat jomblo nan menyakitkan. Udah gitu pasti aku bisa tunjukin ke cewek-cewek centil disekolah yang selama ini keganjenan deketin dia, kalau aku ini, wanita yang selama ini mereka hina dina dan caci maki dengan tak berkeprikemanusiaan dan prikeadilan adalah cewek yang mampu memikat hati Bian sang cowok ganteng dengan sejuta kecoolan nya. Ahh pasti ntar aku mendadak popular dan berita ini akan menjadi highline news di sekolah. He…he…he. Tapi…ahh Astaugfirullah, lantas gimana dengan perjuanganku selama ini? Masa aku rela mengkhianati prinsip diri Cuma gara-gara cowok kayak dia? Aku menggumam dalam hati. Nggak, nggak, prinsip ini lebih berharga dari hal apapun. Syukurlah aku menemukan kembali sisi diriku yang hampir saja kandas ditelan bayang-bayang kebahagian semu.
Bulan berganti bulan tak terasa kini sudah semester dua, aku dengar Bian sudah berhasil menjalin relasi percintaan dengan anak kelas sebelah. Miris rasanya hati ini, tapi…bukankah anak muda selalu begitu? Gagal dengan yang satu, dengan sigap menangkap yang lain. Huh…benar-benar tak bisa dimengerti. Apakah benar cinta semudah itu? Ah apakah benar dulu dia memang benar-benar cinta padaku? Aku mulai sangsi dengan dunia percintaan remaja yang sarat dengan kata putus dan obral dengan kata”Will U luv me?” nampaknya kata-kata itu bukanlah sesuatu yang beresensi, hanya sesuatu yang mudah keluar dari mulut. Asal tampang lumayan, atau asal tajir pacaran pun jadi. Duhh aku semakin bingung, sebenarnya remaja zaman sekarang ini udah terinfeksi virus cinta murahan atau justru disitulah (murahan) letak kebahagian yang mereka cari? Ahh masa bodoh dengan semua itu karena yang jelas aku akan selalu menjaga prinsip diriku say no to pacaran say no to pergaulan nan kelewatan, say no to drug’s n say no to smoking (eh kalo yang satu ini mah udah pasti atuh)

Best Friend’s From Alloh

Alhamdulillah…berkat prinsip yang selalu aku jaga itulah aku bisa mempunyai sebuah motivasi untuk mencari teman-teman seprinsip seperjuangan dan sepenanggungan dalam menumpas kebathilan yang berkecamuk dalam hati dan nurani. Dengan semangat 45 aku mengetik proposal pembentukan extrakurikuler yang nantinya aku harap mampu menjadi penguat hati. Alhasil terbentuklah sebuah forum diskusi dan kajian kemuslimahan di sekolahku. Dalam forum itu aku menjabat sebagai ketuanya. Ck…ck...ck kok bisa sih cewek eror kayak aku ini jadi bu ketua Remaja Masjid. Jadi bingung ya? Aku juga bingung kok. He…he…he
Waktu dengan cepat berlalu, tak terasa kini Remaja Masjid udah berusia empat puluh hari. Horeee saatnya selapanan. Nggak nyambung yah? Yup seneng deh rasanya menjalani empat puluh hari menjadi anak Remas. Semakin banyak temen n pastinya aku jadi lebih termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih dan lebih baik lagi. Malahan nggak kusangka-sangka berawal dari Remas inilah aku jadi punya teman yang sangat amat dekat sekali ato lebih tepat disebut dengan sahabat. Yups mereka pada baek banget, namanya Prili, Ocha, Alan dan Irin. Dan nggak dinyana-nyana (apa tuh dinyana-nyana?) maksudnya nggak disangka-sangaka ternyata si Prili dan Irin entu juga kagak pernah pacaran so aku jadi tambah ngerasa senasib seperjuangan ama mereka. Tapi…masalahnya tu ada pada si Ocha, doi tuh dulunya suck banget, eits tapi bukan berarti dia pernah terlibat FS alias Free Sexs atawa FB alias Free Body (pribadi yang bebas dalam pergaulan). Tapi…dia entu dulunya seorang vokalis band nan sarat dengan pulang malam, kelayapan kesono kesini dan pacaran bertubi-tubi. Tapi…Alhamdulillah kini dia udah bener-bener berubah menjadi sosok muslimah yang tambah cantik dengan penutup kepala (jilbab). Nah kalo si Alan entu pernah sekali pacaran dan itupun karena terpaksa (lah kok iso pacaran karena terpaksa? Pacaran rodi kale) entahlah hanya si Alan yang mampu menjawab jadi janganlah kalian bertanya padaku.

Bang Hari Vs Kuntilanak

Semakin hari persahabatan diantara kami semakin terjalin dengan sangat kuat. Saking kuatnya sampe-sampe Crish John kalah kalo tanding ama kami. Nggak nyambung ya? Yang jelas diantara kami berlima selalu ada tawa, dakwah dan pastinya cinta. Ck…ck…ck… benar-benar persahabatan yang romantis.
Kami berlima seolah telah mendapatkan anugerah terindah dari Allah melalui persahabatan ini, karena semenjak persahabatan ini terjalin kami tak lagi pusing dengan urusan percintaan semu, kami berlima lebih suka memikirkan trik-trik apa yang mampu menarik teman-teman untuk bergabung di Remas. Dan kalo lagi musim-musimnya liburan kami lebih suka ngumpul-ngumpul sambil mendiskusikan ilmu yang bermanfaat. Tak jarang kami juga mengisi liburan kami dengan cara anjang sana alias ngerumpi atawa lihat DVD bareng di rumah salah satu dari kami. Dan untuk hal yang satu ini rumah Irin adalah tempat favorit yang sering kami kunjungi karena disanalah surga manisan, bisa-bisa pulang dari rumah si Irin mulut ini nyut-nyutan karena ulat-ulat di dalam gigi pada menari-nari kegirangan lantaran bagitu banyak manisan yang mereka dapatkan. Eits…ampe lupa perlu kalian ketahui yang aku maksud ngerumpi diatas bukan dalam artian mengghibah ato ngomongin orang-orang nyebelin di sekolah, tapi…maksudnye kami ngerumpiin masalah yang lagi booming n biasanya ni Ocha, Prili, Irin dan Alan pada ngebahas doi mereka yang jago banget sihir menyihir n mengemudikan sapu korek sapa lagi kalo bukan bang Hari. Gludak !!! dan kalo udah nyampe pada bahasan materi mengenai si Hari aku langsung manyun-manyun sendiri kagak jelas gitu sambil membatin dalam hati “Fol demod itu apaan sih? Apa itu sebangsa demid? Coz satu-satunya yang kagak pernah liat DVD atawa baca novelnya bang Hari cuman aku doang. Hiks…hiks…serasa kuper abis deh diri ini. Tapi meskipun demikian aku tetep nggak minat untuk liat entu pilem. Coz pilem kayak begituan mah bukan seleraku, aku lebih seneng liat pilem-pilem demid local for example kuntilanak, tusuk jelangkung atawa lawang sewu. Alasannya, aku kan mengikuti petuah dari menteri dalam negri “Cintailah Produk Indonesia” termasuk pilem setannya. Selain itu kan kasian mbak kuntilanak, mas gondoruwo dan sebangsa demid yang lainnya kalo eksistensi mereka digeser ama pilem-pilem menegangkan buatan luar negri. He…he…he…
Pokoke... hidup mbak kunti!

2 X 2

Selain memiliki kebiasaan yang udah aku sebutin pada bab sebelumnya kami berlima juga punya hobi unik yang boleh kalian tiru, ingat kalo hobi yang diatas itu lebih baik dihindari tapi kalo yang akan aku certain dibawah ini silahkan dipraktekkan dalam kehidupan kalian. Oke pren…! Kami berlima punya kebiasaan saat bel istirahat berbunyi kami berlima langsung menuju base camp kami yang terletak di pojok mushollah sekolah, ukurannya 2X2 meter, bisa dibayangin gimana sempitnya ruangan itu kalo dimasuki oleh lima orang. Sekali lagi! ruangan 2X2 meter diisi oleh lima tubuh anak manusia berusia rata-rata 17 tahun. Yaa Ampyuun! Kalo orangnya punya badan kayak aku semua mah bakalan muat-muat aja. Nah ini ada si Irin yang ….dan si Prili yang….(maaf ada sensor , silahkan isi dengan kata yang tepat menurut pemikiran anda) he…he…sori Pril sori Rin bukan maksud hatiku menyinggungmu, tapi apa daya memang begitu keadaannya. Yaudah kalo gitu biar orang-orang yang ngebaca tulisan ini kagak salah menvisualisasikan kalian dalam pikiran mereka, aku akan mendeskripsikan perawan kalian dalam kalimat yang sejujur-jujurnya.
Berikut ini adalah penggambaran nyata, tidak ada rekayasa ato penipuan didalamnya. Karena tujuan saya cuma satu, ingin memberikan informasi sebenar-benarnya tentang saya dan keempat sahabat saya.
1. Saya, perawakan tinggi kerempeng (berat badan 45kg, tinggi 165cm) kulit biasa-biasa aja. Kagak item, juga kagak putih.
2. Prili, perawakan tinggi besar (berat badan kira2 55kg, tinggi 167cm) warna kulit item manis.
3. Irin, perawakan pendek rada gemuk (berat badan kira2 50kg, tinggi 150cm) kulit putih, putih buanget coz doi tuh sunda asli euy, katanya sih udah takdir orang sunda dilahirkan dengan kulit putih.
4. Ocha, perawakan kecil dan pendek (berat badan kira2 43kg, tinggi kurang lebih sama kayak si Irin) tapi anehnya si Ocha ini phobia banget ama makanan berlemak, coz doi punya kecenderungan takut ama yang namanya kegemukan. Padahal kalo dipikir dan dilihat doi tu udah punya badan yang ideal antara tinggi ama beratnya. Doi punya kulit biasa-biasa aja, kagak item juga kagak putih.
5. Alan, alan ini perawakannya hampir sama ama si Ocha cuma bedanya si Alan sedikit rada cabi, doi punya mata yang sipit n kulit yang putih banget. Nah karena itulah temen-temen disekolah lebih suka manggil si Alan dengan sebutan Ummi Tacik. Maksud’e kayak cina yang berkerudung gitu. Doi nih asli orang Lombok. Konon katanya dia tersesat ke pulau Jawa ini dan bertemu dengan 4 bidadari yang telah membuatnya betah dan enggan untuk pergi ke Lombok lagi.
Nah, udah jelas kan penggambaran fisik masing-masing tokoh, kalo udah jelas simak cerita selanjutnya.
Asal temen-temen tahu, kami berlima doyan banget ngumpul di ruangan kecil di samping mushollah itu coz disitulah tempat terindah bagi kami, meski sumpek, pengap dan sumpah banyak nyamuknya kami berlima bisa mencurahkan segenap hasrat kami disana. Eits…ni bukan ngomongin hasrat-hasrat dalam pengertian negative lho! Yang aku maksud kami berlima bisa mencurahkan hasrat membaca Al Qur An bersama, ngadain liqo ato curhat masalah-masalah yang serius dan amat sangat rahasia. Lah…kok nggak ngaji di dalam mushollahnya, ngapain mesti ditempat yang kondisinya tragis kayak gitu. Pengen tahu? Berikut alasannya.
1. Ada sejarah panjang yang melatar belakangi keberadaan tempat itu. Awalnya tempat itu (base camp kami) merupakan gudang. Sumpah gudang dalam makna sesungguhnya. Berkat Rahmat Allah dan restu dari pak wakasek kesiswaan, ato orang yang bertanggung jawab ama kegiatan-kegiatan OSIS dan Ekskul, kami diizinkan untuk memanfaatkan tuh ruangan. Akhirnya kami berlima bersusah payah membersihkan tuh gudang yang ya ampun kuotor n bau banget. Di dalamnya tersimpan sejumlah harta karun yang nilainya ditaksir ratusan ribu rupiah. Ada kasur, hah apa? Kasur ? lah kok bisa ada kasur di gudang mushollah? Kami sendiri juga nggak tahu gimana sejarahnya sehingga tuh kasur busuk bisa tersesat di gudang mushollah. Di situ juga ada alat-alat pertukangan, ada beberapa ember cat yang isinya sudah mengeras, ada juga pecahan-pecahan kaca, ada sekarung plastik bekas yang nggak jelas asal-usulnya, ada juga sebuah jaket kumal yang ditinggal oleh sang pemiliknya di dalam ruangan nan malang tersebut. Nah karena kami tahu sebenarnya tuh ruangan pada awal pembuatannya udah direncanakan untuk ruang ta’mir, akhirnya kami berlima berusaha dengan sekuat tenaga + selaksa doa untuk membersihkannya. Dan ternyata…ruangan itu menjadi benar-benar kosong. Karena kami berlima udah mindahin semua penghuninya ke gudang sekolah Kasi keplok untuk kami berlima. Prok…prok…prok!
2. Selanjutnya base camp itu kami hiasi dengan poster-poster menggugah hati misalnya (Rasulullah is My Idol, Keep Spirit With Islam) udah gitu si Prili yang punya bakat jadi guru TK bikin origami buanyak banget n dia gantungin tuh origami di jendela base camp. Nah…tugasku membuat papan mading yang artikel-artikelnya aku temuin di internet dan majalah, selain itu juga aku tempelin beberapa puisi karanganku disana. Ck…ck Subhanallah. Benar-benar beda ama sebelumnya. Nah buat nambahin kesan bonafit kami tempelin di depan pintunya sebuah tulisan “Ruang Sekretariat Remaja Masjid” cuit…cuit akhirnya kami yang usinya baru beberapa bulan udah punya ruang sekretariat. Alhasil mulai saat itu banyak adek-adek kelas yang pada ngikut nimbrung didalamnya. Walau ruang itu terlalu sempit untuk bisa menampung mereka, tapi tetap terasa luas sanubari hati ini untuk menerima kehadiran mereka. Karena mereka tanpa malu-malu n ragu-ragu menceritakan segenap keluh kesahnya pada kami, padahal mereka tuh sama sekali nggak pernah akrab ama kami sebelumnya. Subhanallah
3. Nah…ini ada alasan yang paling mendasar, kami tetep make’ ruangan yang sempit itu buat liqo ato ngaji karena kalo kami liqo nya di mushollah kami bakalan nampang disamping ato dibelakang orang yang lagi sholat coz tuh mushollah aneh banget, kagak ada tabirnya. Yah mending kalo yang sholat cewek nah kalo yang sholat cowok?
4. Ini cuma alasan yang dibuat-buat, udah bukan jadi rahasia umum kalo cewek doyan dandan. Tak terkecuali cewek-cewek Remas ini. eits…tapi jangan salah yang aku maksud disini bukan dandan seperti cewek-cewek pada umunya. Tapi…kalian semua tahu kan kalo abis wudhu n sholat kerudung jadi kagak rapi, udah gitu pelembab yang dipake juga luntur so di dalam ruangan berukuran 2X2 itulah kami selalu merapikan kerudung ama pake pelembab wajah agar saat berada di bawah terik matahari kulit kami nggak kebakar. Beneran cuma itu aja kok yang kami maksud dengan dandan. Sungguh kami nggak lebih dari itu. Ck…ck…ck…dasar cewek-cewek Remas genit!
Nah…itulah sedikit cerita nggak penting yang mendasari kecintaan kami terhadap ruangan 2X2 di mushollah. Dan syukur Alhamdulillah kebiasaan kami yang suka menghabiskan waktu istirahat di mushollah membuat tempat suci itu terhindar dari anak-anak tak beradab. Eits...pengen tahu kan kenapa kami tega menyebut beberapa teman satu sekolah sebagai anak-anak tak beradab. Kalo pengen tahu...jangan kemana-mana! Baca lembar berikutnya! Ocre!!

Petugas Trantib

Yups....yang kami maksud dengan anak-anak tak beradab itu adalah mereka-mereka yang pacaran seenak dengkulnya di serambi mushollah. Duh Ya Allah kiamat memang sudah dekat, sampe-sampe tempat yang semestinya digunakan untuk bercengkrama dan merayu Engkau dalam doa dan sujud malah digunakan sebagai tempat perbuatan tercela yang akan membawa diri mereka pada jalan lurus menuju zina. Astaugfirullah…Anak-anak itu memang nggak punya hati. Tapi...apa memang karena tempat paling sepi dan paling indah di sekolah adalah mushollah? Sehingga mereka bisa memasang wajah tanpa dosa saling merangkul pacar mereka? Wah suck banget deh! Pernah ni suatu hari, waktu itu aku datang ke base camp duluan coz guru yang ngajar dikelasku nggak masuk. Sedangkan Ocha, Prili, dan Irin masi berpusing-pusing ria ama soal matematika, sedangkan si Alan Wallahu A’lam coz kelasku jauh banget ama kelasnya. Nah…pas aku masuk ke mushollah aku liat di serambi yang berada di sebelah selatan (serambi itu menghadap kearah tempat wudhu cewek) nampak sepasang anak manusia sedang asyik pangku-pangkuan disana. Ya Allah (aku mengelus dada) ya ampyuun...woi mbak...mas...ni mushollah bukan taman kota ataupun tempat wisata (aku membatin dalam hati) Melihat itu aku langsung meraih sebuah sapu yang digantung disamping lemari mushollah, eits…jangan salah sangka dulu, aku ambil sapu bukan untuk mentung tuh anak manusia yang berhati hewan tapi…aku hendak mengusir mereka secara halus.
“Maaf…Mas…dik permisi (karena si cowoknya kakak kelasku dan ceweknya adik kelasku) mushollahnya mau dibersihkan” dengan tampang kaget setengah mati mereka langsung membuyarkan aksi pangku-pangkuan itu. Dan dengan tampang geram menahan marah mereka pergi meninggalkan mushollah dan diriku. Ha…ha…ha Yes…yes aku berhasil! Kayak petugas trantib aja seneng ngebuyarin ketidakdisipilinan he…he….he aku tersenyum sambil nyapu mushollah yang berdempul debu ( ^______* )
Pernah juga suatu ketika ada anak yang buandelnya minta ampun, dia tuh suka ngeboleos nggak ikut pelajaran dengan cara ngumpet di mushollah. Parahnya lagi tuh anak manusia ngumpet ampe ketiduran di dalam mimbar khutbah. Ck…ck…ck cerminan pelajar nan mengenaskan. Dan parahnya lagi nggak ada guru yang pernah tahu ulah tuh anak. Alhamdulillah…berkat ulahnya yang kepergok ama anak-anak Remas dia dipanggil ama pak wakasek kesayanganku (coz aku yang laporin tuh anak biar nyahok) akhirnya pak wakasek menindaknya dengan tegas, dia disuruh wajib lapor tiap pergantian jam pelajaran. He…he…he sukses lagi jadi petugas trantib.


Ketika Cinta Diuji

Akan tetapi…hidup adalah misteri seperti lirik indah dalam lagu Aa’ Ari Laso “Segala yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri Ilahi, berikan cobaan hanya ujian kehidupan…” Yah aku setuju banget ama ni lagu karena setelah sekian juta tawa terukir diwajah kami, setelah sekian judul bahagia tertulis di lembar diary kami. Kami tetap harus merasakan yang namanya cobaan dan masalah. Dan inilah sesi dimana kalian wajib menangis dan terharu. Ingat wajib hukumnya terharu dengan kisah berikut ini (awas mulai serius) ck…ck…ck
Awalnya tak ada masalah dengan pembentukan Remas, begitu pula dengan kegiatannya. Tak ada yang menghambat. Peminatnya pun juga sangat banyak. Sekitar lima puluh orang siswi. Kegiatan Remas memang telah kami atur sedemikian rupa agar tidak membuat jenuh pesertanya. Dan yang mengisi materi juga cuantik, muanis dan buaek banget namanya Ibu Sholihah beliau salah seorang kenalanku. Banyak teman-teman yang mengagumi sosok Bu Sholihah karena beliau sangat komunikatif dan enak diajak curhat. Itu membuat kami semakin giat datang ke kajian yang selalu dilaksanakan hari jumat sepulang sekolah.
Tapi…setelah bulan keempat kegiatan Remas berlangsung ada sebuah tragedi nan memilukan. Aku dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Tadinya kupikir ada kabar gembira, aku sempat menerka akan ada penambahan dana bulanan Remas atau akan ada acara besar yang menyangkut Remas. Akan tetapi…semua tak sama tak pernah sama. Bukan kabar gembira tapi justru kabar derita” Remaja Masjid akan dibubarkan!” watdefak? Hiks…hiks… hiks... pilu rasa hati ini. Bingung rasa benak ini, apakah yang terjadi? Adakah yang salah dengan diri ini? Untuk bisa mendapat kejelasan dari keputusan itu akhirnya aku bertanya pada Pak Kepsek. Dan ternyata masalahnya terletak pada kelegalan organisasi. Lah kok iso. Padahal baru empat bulan proposal pembentukannya ditanda tangani, apa pak Kepsek wis lali (lupa) aku mulai garuk-garuk rambut ehh salah kerudung maksudku. Aku jadi tambah bingung. Kenapa kok proposal yang sebelumnya itu dianggap nggak sah? Ternyata ketidaksahannya lantaran Wakasek kesiswaan yang mendongkrak pembentukan Remas udah diganti ama orang lain. Dan si Wakasek kesiswaan yang baru ni nggak setuju kalo Remas tetap ada tanpa adanya pembuatan proposal baru yang di dalamnya mencantumkan nama, gelar dan NIP nya duh Pak…pak kasihanilah kami, masa sih kami mesti mulai dari awal. Kan kami udah umur empat bulan masa’ sih disuruh lahir lagi. Tapi nggak apa-apa deh kami rela kok bikin proposal baru asalkan keberadaan kami masih diizinkan disekolah. Akhirnya tiga hari kemudian proposal yang baru berhasil disusun, itu semua berkat bantuan adik-adik kelas yang bakalan menggantikan posisi aku dan teman-teman yang menjabat sebagai dewan pengurus Remas. Meskipun mengalami begitu banyak cobaan dalam penyusunannya, for example listriknya padam pas udah ngetik berlembar-lembar dan o’on nya aku kagak nge automatic save tuh document. Hiks…hiks…hiks mulai dari awal deh. Dan setelah itu proposal yang sudah selesai disusun plus dijilid pun kudu dirombak ulang coz katanya pak wakasek yang baru tuh proposal amburadul alias mengandung banyak unsur kesalahan. Tapi…Alhamdulillah seminggu kemudian proposal yang udah dibenerin berhasil kami susun. Aku ditemani ama ibu ketua OSIS yang tak lain dan tak bukan juga merupakan anak Remas, menghadap pak Wakasek kesiswaan yang baru, disini kami diwawancari abis-abisan, beliau nanya tetek bengek tentang kegaiatan Remas mulai dari siapa Ustadzahnya, kayak gimana acaranya dan materi yang pernah disampein apa aja. Terus apa di dalamnya nggak ada indikasi penyesatan? Ya Alloh…aku nggak nyangka beliau bakalan nanyak ampe segitunya, dan yang lebih menyanyat hati lagi beliau nanyaknya dengan ekspresi yang tak mengenakkan hati. Akhirnya karena pertanyaan itu terkesan menuduh aku langsung menjawab, “Ya…kalau Bapak ingin tahu bagaimana kegiatannya silahkan saja Bapak menghadiri acara kajian rutin Remas” tapi beliau cuma diam terus ngasih proposal yang udah ditanda tangani itu padaku. Setelah itu aku dan bu Ketua OSIS menuju ruang Kepsek, disana kami juga mendapat perlakuan yang sama. But nevermind yang penting proposalnya udah ditandatangani. Yes…Alhamdulillah akhirnya Remas terselamatkan.


Remasku Sayang... Remasku Malang

Akan tetapi…hal yang tak disangka-sangka terjadi lima hari kemudian, aku tak tahu kenapa tiba-tiba pak Kepsek menyuruh aku memanggil semua anak Remas untuk berkumpul di mushollah sekolah. Aku bingung. Tapi…masih berhusnudzon, mungkin pak Kepsek hendak memberikan perhatian lebih kepada remas, so…tanpa pikir panjang aku langsung menginstruksikan kepada semua warga Remas untuk berkumpul di mushollah saat jam istirahat.
Bel istirahat berbunyi, sekitar lima puluh siswi berjilbab berkumpul di mushollah yang didalamnya sudah dihuni oleh pak Kepsek, pak Wakepsek, dan dua guru agama senior. Dan ternyata sodara-sodara…apakah yang terjadi? Pernyataan tegas nan memilukan keluar dari bibir pak Kepsek “Remas bubar” hah….! Spontan aku dan teman-temanku serasa lemas dan ingin pingsan, bagaimana mungkin Remas yang sudah kami anggap sebagai keluarga kedua bagi kami akan diceraikan? bagaimana mungkin proposal yang baru lima hari yang lalu disahkan kini sudah tinggal kenangan. Nggak…nggak aku nggak terima dengan semua ini.
Setelah pak Kepsek beserta jajarannya menyampaikan pidato yang isinya bla…bla…bla…bla. Aku langsung berkata adakah yang salah dengan kegiatan ini? bapak-bapak itu menjawab bahwa mereka takut kami para anak Remas bakal menjurus ke aliran tertentu. What? Aliran apa aku kagak ngerti, beneran sumpah demi Allah selama ini yang kami pelajari cuma topik bahasan yang ringan kayak gimana hukum pacaran, cara nutup aurat yang bener, gimana islam dalam mengatur hubungan cowok cewek dan gimana caranya ningkatin ketakwaan kita kepada sang Khalik. Terus kalo pun kami ngadain kegiatan diluar kajian rutin hari jumat kami nggak pernah ngebahas hal-hal yang aneh ato diluar Al Qur An dan hadist Shahih, Suer cuma itu doang! Lah kok disangka yang tidak-tidak sih?
Tersayat rasa hati ini, perih…perih banget setelah menerima keyataan yang menyedihkan ini. aku bingung kenapa kegiatan Remas mesti dibubarkan cuma gara-gara alasan yang nggak berdasarkan penjelasan, dimanakah letak kesalahan kami? Sehingga menimbulkan anggapan negative dari pihak sekolah. Akan tetapi kegiatan seperti PA ato pecinta alam yang isinya cuma hura-hura dan campur baur saat kemah justru didukung dan di danai sekalipun menghabiskan biaya yang banyak? Wallahu A’lam aku tidak bisa menerka ini semua dengan pasti, tapi kala itu aku dan teman-teman di Remas tetap berusaha berhusnudzon, mungkin pihak sekolah berbuat demikian lantaran mereka terlalu sayang pada kami sehingga mereka takut jika kami salah jalan. Akan tetapi saat itu aku dan teman-teman tidak hanya tinggal diam. Aku bangga pada adik-adik dan teman-temanku yang mampu menyampaikan kekecewaannya pada pak Kepsek beserta jajarannya itu. Sungguh…sekalipun aku nggak pernah mendengar mereka mengatakan kalimat-kalimat seberani itu apalagi mereka menujukannya ke pak Kepsek. Mereka semua satu persatu menyampaikan kekecewaannya dalam linangan airmata. Aku sangat terharu mendengar kalimat-kalimat yang mereka ucapkan disela airmata yang menetes membasahi pipi mereka. Saat itu aku berusaha untuk diam, tak sepatah katapun yang aku ucapkan walaupun sebenarnya ada berjuta kekecewaan yang hendak aku tumpahkan. Hingga akhirnya apa yang aku tahan itu tak mampu lagi terbendung setelah aku dengar salah seorang dari guru agama senior itu berkata “Mereka menjadi seperti ini karena mereka sudah terpengaruh” spontan aku berkata “Maaf…Pak jika saya lancang dalam forum ini, tapi…lebih baik bagi saya menumpahkan isi hati saya disini dari pada ada kesalah pahaman yang berkepanjangan diantara kita, jujur saya kecewa dengan sikap Bapak sekalian, kenapa Bapak menyuruh kami membuat proposal baru jika akhirnya kami tetap saja dibubarkan? Dan hal apa yang telah membuat Bapak berprasangka seperti itu terhadap kami? Kalau memang Bapak takut kalau nantinya kami terjerumus pada kesesatan, bukankah ada jalan lain yang bisa kita tempuh? Kalau memang yang menjadi masalah adalah pematerinya, bukankah kita bisa menggantinya dengan guru agama disini? Dengan demikian Remas ini akan tetap ada” Akhirnya pak Kepsek menjawab bahwa Remas tetap dibubarkan akan tetapi kegiatan kajian tetap bisa dilaksanakan setelah sholat jumat dan yang bertindak sebagai pemateri adalah guru agama kami.
Akan tetapi, kegiatan kajian itu tak berjalan seperti sedia kala, tentu saja, karena bagaimana mungkin suatu kegiatan diadakan tanpa adanya pengurus serta koordinasi yang baik yang hanya bisa terwujud dengan adanya organisasi. Gerak dan langkah kami pun nampak selalu diawasi dan dikoreksi, kami selalu dimata-matai, dalam kasus ini yang dijadikan titik fokus tentunya aku. Karena akulah pelopor berdirinya Remas di sekolah. Tapi saat itu aku tetap berusaha rajin datang ke kajian yang didisi guru agama itu meskipun teman-teman yang lain tampak lesu dan malas untuk hadir lantaran topik bahasannya kurang menarik. memang sih jujur aku akui cara penyampaiannya kurang menarik tapi walau bagaimanapun bukankah ilmu tetaplah sesuatu yang bermanfaat. Bukan masalah siapapun yang menyampaikan tapi yang lebih penting adalah apa yang disampaiakan. Akan tetapi…setelah berjalan beberapa minggu kegiatan itu akhirnya bubar lantaran peminatnya hanya beberapa kepala saja. Sungguh sangat disayangkan.


Ruqyah

Pernah juga ada kejadian lucu diantara kami. Waktu itu kami berlima dibantu ama beberapa orang teman ngadain acara seminar sekaligus ruqyah masal. Acara itu kami adain di luar sekolah, tadinya sih kami ingin banget ngadain tuh acara di sekolah, akan tetapi karena kami udah nggak punya wewenang apa-apa dalam mengadain acara bertajuk Islam so...kami Cuma bisa merealisasikan kegiatan itu atas nama pribadi bukan sekolah.
Pemateri acara seminar dan ruqyah masal itu diisi oleh seorang Ustadz yang emang udah diakui kelihaiannya dalam usir mengusir jin yang terdapat dalam raga manusia.
Jam sembilan tet acara dimulai, peserta yang datang berjumlah sekitar 10 orang plus 7 orang panitia. Nah yang bertindak yang sebagai Mcnya tuh aku. Awalnya aku dengan sangat amat bersemangat memimpin acara, but setelah acara ruqyahnya dimulai dengan bacaan surat Al Qur An, perlahan...tapi pasti bulu kudukku satu demi satu berdiri... mataku merem melek...pokokke berat banget dah udah gitu tiba-tiba badanku lemes n gemeteran, setelah itu Wallahu A’lam aku kagak inget lagi, kata temen-temen sih aku nangis histeris sembari ngomel-ngomel nggak karuan. Idih... memalukan banget sih! Alhamdulillah untung aja aku cepet sadar, lah kalo nggak bisa-bisa aku dikirain orang gila.
Nah...kejadian heboh nggak sampe disitu aja. Masih ada kelanjutan yang lebih menegangkan. Beberapa saat kemudian teman-teman yang lain pada berjatuhan, parahnya yang berkontraksi akibat ruqyah itu adalah panitia. Bisa dibayanginkan gimana paniknya para peserta setelah hampir semua panitia menjerit-jerit histeris. Mereka pada ketakutan plus kebingungan karena Pak Ustadznya Cuma satu sedangkan yang berkontraksi ada banyak orang. Welwh-welwh kok bisa sih pada disarangin oleh jin? Kami bingung banget kok bisa sih? Padahal kan kami rajin sholat, ngaji dan nggak pernah ngelakuin ritual-ritual aneh atopun mengunjungi tempat-tempat keramat nan angker? Ternyata jawabannya kami temukan setelah Pak Ustadz menjelaskan bahwa yang namanya jin itu bisa masuk dari berbagai penjuru. Bisa masuk dari makanan, minuman atopun melalui mimpi. Dan si jin pun juga bisa masukin raga dari orang yang hafal Al Qur An sekalipun! What’s? Hafid or hafidoh ato yang lebih famous disebut sebagai penghafal Al Qur An juga bisa ditempelin ama om jin? Kenyataannya emang demikian, Pak Ustadz bercerita katanya beliau pernah mengruqyah seorang hafid, Astaugfirullah!
Terus kami nanya ama tu Ustadz, Pak...kalo gitu hal apakah yang mesti kita lakukan agar kita terhindar dari godaan jin? Lalu Pak Ustadz menjawab ”Perbanyak mengingat Alloh dan istigfar, selain itu juga jangan sampe membiarkan pikiran kosong”
Hem...ternyata dulu...di dalam tubuhku ini bersarang sesosok makhluk Alloh yang bernama jin.
Keesokan harinya hal nyebelin harus aku rasakan. Tahu nggak tuh tiga peserta cowok yang ikutan acara ruqyah itu pada ngeledekin aku. Mereka selalu menyindirku ”Hai tahu nggak kemarin tuh kamu lucu banget” dia pikir aku ini abdel temon apa seenaknya dikatain lucu! Huh...kalo tahu bakalan kayak gitu kejadiannya. Hem...aku udah pasti minta diruqyah sebelum acara itu dimulai. Pastinya ditempat yang nggak ada anak cowoknya.


Remasku Hilang Kurmaku Datang

Kami berlima tetap bersahabat meskipun tak lagi ada Remas di sekolah. Kami juga tetap sering berdiskusi soal agama dan masalah pribadi karena sering kali kami mengadakan kajian terselubung di kantin atau dibangku teras kelas. Akan tetapi kami tetap merasa rindu duduk lesehan dalam suasana majlis ta’lim yang resmi yang mengahdirkan seorang ustadzah untuk memberikan kami tausiyah. Atas dasar itulah akhirnya kami berlima membentuk forum kajian diluar sekolah yang kami beri nama “KURMA” kamunitas remaja muslimah, bertempat di masjid jami’ di kotaku. Alhamdulillah kepala ta’mir masjid itu memberikan kami izin mengadakan kegiatan kajian dengan senang hati.
Agar dapat merekrut anggota sebanyak-banyaknya KURMA membagikan ratusan selebaran yang disebarkan di berbagai SMP dan SMA di kotaku. Akan tetapi nampaknya yang memberikan perhatian terhadap selebaran itu hanya sekitar lima orang saja sehingga jumlah anggota KURMA hanyalah sepuluh orang.
Akhirnya aku dan sahabatku kembali menemukan forum lesehan yang membicarakan segala yang terangkum dalam Al Qur An.


Kaos Kaki Prili

Seperti yang sudah aku ceritakan sebelumnya, kami berlima sering kali mendiskusikan masalah pribadi yang sedang kami hadapi. Pernah suatu ketika si Prili bercerita pada kami tentang masalahnya dengan ayah dan ibunya. Si Prili ini ingin banget membiasakan diri pake kaos kaki karena berdasarkan Al Qur An An Nur 31 dan hadist shahih yang namanya aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan, so dapat disimpulkan bahwa kaki itu adalah aurat. Akan tetapi nampaknya ayah dan ibu Prili menanggapi hal itu dengan pemikiran yang berbeda, Prili meminta pendapat dariku, aku jadi bingung karena aku belum pernah mengalami hal seperti itu. Karena keluargaku sama sekali tidak pernah mempertanyakan ataupun melarang perihal kenapa aku selalu berkaos kaki setiap keluar rumah. Begitu pula dengan kereudung besar yang aku gunakan sejak kelas dua SMA, sungguh Allah memberikan kemudahan bagiku meskipun seluruh komponen keluarga besarku baik dari pihak ayah maupun pihak ibu tidak ada yang berjilbab. Akhirnya kami berlima mulai memeras keringat untuk memikirkan hal itu. Dan disaat yang bersamaan si Irin juga mendapatkan hidayah untuk mel;akukan hal yang sama, dia juga terketuk pintu hatinya untuk mulai berkaos kaki. Alhamdulillah.
Beberapa hari kemudian Prili datang dengan wajah yang sumrigah sambil berkata “Alhamdulillah ibuku sudah nggak nanya-nanya lagi masalah kaos kaki, malahan kemarin sepulang dari kantor dia bawain aku dua pasang kaos kaki jempol. He…he…he senangnya hatiku”
Subhanallah…ternyata nggak disangka-sangka hati yang tadinya keras bisa melunak seiring berjalannya waktu.

Kerudung Syar’i Kemanakah Dikau kan Kucari?

Nah kalo yang ada di bab sebelumnya adalah cerita si Prili dengan kaos kakinya, kalo yang akan hadir diparagraf berikutnya adalah ceritaku beserta kerudung gedeku di sekolah.
Sebenernya udah sejak kelas satu SMA aku pingin pake kerudung yang syar’i alias sesuai dengan ketentuan yaitu menjulur hingga menutupi dada. Akan tetapi yang jadi masalah susah banget nemuin kerudung kayak gitu di toko maupun di pasar. Hampir seisi kota aku telusuri tapi yang ada kerudung tsunami yang pendek banget (nggak tahu kerudung tsunami itu apa?) kerudung tsunami itu sejenis kerudung praktis yang booming waktu lagi ada tragedi tsunami di Aceh. Nah selain kerudung tsunami yang super duper pendek coz cuma nutup kepala ama leher yang ada cuma kerudung silky yang tipis banget bentuknya segi empat gitu. Ni kerudung susah banget diotak-atik, kalo lipatan segitiga yang bagian dalem dipendekin jadinya nerawang alias transparan gitu, nah kalo di samain antara lipatan segitiga yang ada di dalem ama yang luar jadinya pendek banget. Akhirnya berkat kelihaianku dalam mengutak-atik kerudung aku gabungin dua kerudung segi empat itu kemudian lipatan yang bagian dalam aku pendekin, so jadilah kudung lebar yang nggak nerawang. Tapi…memerlukan waktu satu jam untuk bisa memasang tuh kerudung dikepala. What? So bayangin aja kalo tiap pagi aku mesti nampang di depan kaca buat make tuh kerudung selama satu jam per hari dalam sebulan aku memerlukan 30 jam cuma buat make tuh kerudung nah kalo setahun? Apa nggak 365 jam kebuang cuma untuk nutup kerudung? Akhirnya penderitaan dalam urusan make kerudung teratasi setelah aku dapet info kalo di kota kabupaten yang jaraknya sekitar 36 km dari rumahku ada toko kerudung yang jual berbagai macam kerudung mulai dari model kerudung ala Zaskia Mecca ampe kerudung gede berbagai model, ukuran dan warna.
Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah uang akhirnya aku berangkat menuju kota tersebut. Dan aku sangat senang melihat selembar kain putih berbordir bunga-bunga kecil berwarna abu-abu terpajang disalah satu rak. Kainnya katun nomor satu, adem dan halus banget. Harganya empat puluh delapan ribu. Aku masih ingat banget. Pas lihat harga yang menurut aku lumayan mahal itu aku langsung sepaneng sambil ngitung-ngitung uang disakuku. Kira-kira kembaliannya cukup nggak ya buat ongkos pulang? Alhamdulillah ternyata cukup. Tanpa pikir panjang lagi aku masukkan dalam tas belanjaan dan kuserahkan tas itu kemeja kasir.
Begitu sampai dirumah aku langsung mencoba kerudung itu, ya ampun tuh kerudung gede banget, dan rasanya adem, beda ama kerudung doble silky yang aku pake. Dan pada hari yang bersamaan pula seragam baru yang seminggu lalu aku jahitkan ke penjahit juga sudah selesai. Seragam itu sengaja aku jahitkan dengan ukuran yang super gede, awalnya bu penjahit kaget “Ni seragam kok kegedhean banget apa nggak kurang kecil mbak ukurannya?” aku spontan menjawab nggak kok bu, saya lebih suka yang longgar-longgar.


Tragedi Karung Goni

Pagi itu...dengan bahagia aku berkaca... menatap kerudung dan baju baruku yang akan kukenakan kesekolah.
Dan apakah yang terjadi disekolah? Sebagian teman ada yang ngetawain aku dan yang sebagian lagi cuma mantengin dengan tampang heran. Tapi aku tetep PD aja. Nggak peduli mereka berkata apa. Yang jelas aku seneng banget pake baju n kerudung impian ini.
Ibarat warna merah diantara warna putih aku jadi pusat perhatian, yah ela masa kerudung gedhe aja jadi pusat perhatian. Pasti siapapun yang ngebaca tulisan ini pada heran ya? Mungkin kalian belum tahu bahwa di tempatku itu hal kayak gitu tuh belum lumrah terjadi. Apalagi kalo yang make anak sekolahan, ehm pasti dah jadi headline news disekolah, ditambahlagi dengan asumsi bahwa kalo orang salamannya nelungkupin tangan itu tandanya pengikut aliaran tertentu. Wah…benar-benar sulit berada dalam kenyataan kayak gitu. Aku harus berusaha sebiasa mungkin dengan ejekan-ejekan dari teman-teman, tak jarang aku dengar anak-anak kelas sebelah memanggilku “Hai karung goni berjalan” ato “Bajunya emak’e kok dipake sih” aduh kata-kata kayak gitu sering banget aku dengar pas awal-awal aku pake baju gedombrangan (kegedean) parah banget tahu nggak Tapi…ternyata itu cuma awal-awalnya aja kok. Setelah minggu kedua aku hampir sama sekali nggak dengar kata-kata seperti itu. Mungkin mereka udah pada capek kali ya?
Walaupun demikian aku tetep berusaha istiqomah dengan semua ini apalagi aku punya penyemangat yang selalu mengingatkan aku untuk lebih…lebih dan lebih lagi dalam ningkatin kualitas diri, mereka adalah sahabat-sahabatku tercinta. I love U All.
Oh ya aku lupa sejak aku pake kerudung gedhe teman-teman di kelas juga jadi lebih sungkan alias lebih menghargai aku. Mereka jadi pada baek-baek dan nggak seenaknya kalo ngomong. Mungkin saat mereka berhadapan ama aku mereka jadi teringat sosok wanita yang mereka cintai dan hormati kali ya? Maksudnya emaknya. He…he…he


Jatuh Cinta...? Ternyata Kami Juga Bisa

Oya ada satu kisah menarik yang terjadi diantara kami berlima. Berikut kronologisnya.
Walau bagaimanapun aku dan teman-temanku tetaplah remaja yang terkadang dihinggapi perasaan jatuh hati terhadap lawan jenis. Ehm…ehm ceritanya begini waktu itu entah kenapa tiba-tiba aku tuh ngerasa ada yang merhatiin gitu, sering kupergokin orang itu curi-curi pandang gitu ma aku. Nah berhubung tuh orang caem n pendiam yah wajarlah kalo aku jadi Ge Er terus kepincut ama dia. Nah ternyata yang aku rasain itu semakin hari semakin nampak, aku sering uring-uringan dalam hati kalo dia nggak masuk sekolah, aku juga kadang-kadang sering bertanya dalam hati perasaan apa ini? sekedar Ge Er kah? Atau…benarkah ini cinta? Dan disaat yang bersamaan si Prili juga ngalami hal yang sama dia ternyata juga lagi falling in lop gitu. He…he…he dia nggak cerita sih ama aku tapi…dari gelagatnya kentara banget kalo dia lagi ngagem tresno(punya rasa ama seseorang)
Akan tetapi syukur Allah masih menetapkan hati kami untuk tidak ngelakuin hal-hal gila yang udah wajar dilakuin ama cewek-cewek pada saat itu. Yaitu ngajakin jalan cowok yang mereka taksir, kirim sms kagak jelas atawa sok-sok akrab. Nggak…sekali lagi kami nggak sampe melakukan perbuatan tercela tersebut karena berkat rahmat Allah serta nasehat dari sahabat-sahabat yang lain yang lebih berpengalaman dalam hal kayak gitu (Ocha terutama) akhirnya kami bisa melewati masa falling in lop itu dan kemudian kami bangkit terus janji deh nggak bakal Ge Er- Ge Eran ama cowok lagi coz arah hidup kami cuma satu jadi remaja muslimah yang sebisa mungkin menjaga hati dan tubuh ini. Waduh narsiz oiy.

Perpisahan Itu Tiba

Ibarat roda yang senantiasa berputar, waktu terus bergulir membawa kami pada fase tersulit dalam hidup kami yaitu perpisahan. Udah hampir dua tahun persahabatan ini terjalin dengan sangat erat. Hampir dua tahun kami ngabisin saat-saat kebersamaan kami dengan derita, bahagia, tangis airmata dan beribu hikmah dibalik masalah. Akhirnya kami harus berpisah, yah perpisahan itu terlihat nyata didepan mata karena setelah lulus Alan akan pergi ke kampung halamannya di Lombok dia akan melanjutkan studi disana, sedang Ocha hendak mencari kerja. Sementara aku, Prili, dan Irin masih tak tahu hendak melanjutkan kuliah dimana.
Setelah pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) diumumkan aku sedikit menemukan kejelasan akan masa depanku, ternyata aku diterima di FKIP Bahasa Indonesia UNEJ, begitu pula dengan Prili dia diterima di FKIP Ekonomi UNEJ berarti kami berdua masih bisa sering ketemu karena kami satu kampus, semetara si Irin tidak diterima dimana-mana, akhirnya ia mengikuti tes di sejumlah perguruan tinggi swasta dan mengikuti ujian masuk lokal di FKIP Ekonomi UNEJ. Alhamdulillah…ternyata dia lulus ujian lokal FKIP Ekonomi UNEJ sehingga kami bertiga satu kampus.
Akan tetapi walaupun satu kampus kami tetap tak bisa menghabiskan waktu bersama-sama sesering saat SMA dulu karena jadwal kuliah yang berlawanan, Irin yang merupakan mahasiswa Non Reguler selalu masuk sore hingga malam hari sedangkan si Prili meskipun sama-sama mahasiswa regular sepertiku seringkali punya jadwal kuliah yang tak bersamaan denganku akibatnya kami sangat jarang bertemu.
Setelah kuliah kami juga mengaji atau ikut forum keislaman yang berbeda. Irin ikutan HTI Link Kampus, dan Prili lebih memilih menjadi anggota UKKI (Unit Kegiatan Kerohanian Islam) yang ada dibawah naungan Fakultas, sedangkan aku mengaji di forum kajian luar Universitas tepatnya FKIA (Forum Kajian Islam As Sunnah) atau yang lebih dikenal dengan kajian As Salafy.
Walau kini kami berada di forum yang berbeda, kami tak pernah merasa ada yang berbeda diantara persahabatan ini. Yah bagiku...mereka tetap sahabat-sahabatku yang hingga kapanpun tak akan pernah tergantikan. Karena merekalah orang-orang yang dikirimkan oleh Allah kepadaku ketika aku memang benar-benar membutuhkan kehadiran teman yang mau menerimaku apa adanya terlebih lagi mereka juga memiliki prinsip dan keinginan yang sama. Bagiku... mereka laksana cawan yang mampu menampung segenap tetesan peluh dan kesalku...mereka juga cawan yang selalu memberiku segarnya air dingin saat kerongkonganku kering.
Sahabatku... aku sangat menyayangi kalian. Prili...Irin...Ocha...dan Alan... Semoga kalian selalu mengingat saat-saat itu. Ketika kalian menguatkan aku... ketika aku juga merasa sebagai seseorang yang selalu ingin menguatkan kalian. Semoga kalian selalu menyimpan detik-detik kenangan...kenangan ketika kita tertawa... ketika kita berlinang airmata... ketika kita dihina... ketika kita merasa berharga... ketika kita ceria... ketika kita berduka. Dan yang jelas ”KETIKA CINTA BERBAGI”